Alhamdulillaah mulai menulis lagi setelah sekian lama vakum. Tulisan perdana kali ini akan membahas sebuah analogi sederhana yang berkaitan dengan bagaimana kita lebih mudah membangun sebuah koneksi kemudian mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Konteksnya kita bawa ke ranah parenting atau pengasuhan.
Beberapa peserta pelatihan bertema parenting yang pernah saya fasilitasi pernah menanyakan "Pak apa yang harus saya lakukan agar nasehat kami sebagai orang tua lebih didengarkan oleh anak-anak kami?".
Menjawab pertanyaan ini, saya biasanya menggunakan analogi sederhana yaitu "rekening bank emosi". Apa yang dimaksud dengan rekening bank emosi ini? Ya prinsipnya sama dengan rekening bank biasa yang kita miliki. Sama juga menggunakan prinsip setor untuk uang yang masuk dan tarik, saat kita ingin mengambil uang di rekening kita melalui ATM misalnya.
Kalau saldo yang ada di rekening bank yang kita miliki 100 juta, maka saat ditarik 90 juta ya tentu saja masih bisa. Namun apa yang terjadi jika saldonya 100 juta tapi ditarik katakan 120 juta? Jawabannya jelas SALDO TIDAK MENCUKUPI. Artinya kalau mau diambil 120 juta ya minimal ada 121 juta.
Bagaimana dengan rekening bank emosi? Oke kita bahas dengan contoh sebagai berikut. Misalnya Anda sebagai orang tua tahu bahwa anak Anda merupakan penyuka jus alpukat. Saat pulang dari berkegiatan, Anda belikan anak Anda jus alpukat. Apa kira-kira respon ananda? Senang? Yup, senang sekali. Gara-gara hadiah jus alpukat ini, masuklah "setoran" di rekening bank emosi nya senilai 20 juta. Lalu anak Anda diminta untuk mengambilkan barang Anda yang tertinggal di motor atau mobil Anda. Bagaimana kira-kira responnya?
Saat kita minta tolong atau meminta perhatian, minta dia mendengarkan, itu artinya kita sedang melakukan proses "tarik". Berarti saat kita minta tolong kepada anak kita untuk mengambilkan barang yang tertinggal kita sedang 'menarik' saldo di rekening bank emosi anak. Anggaplah permintaan untuk mengambilkan barang itu nilainya hanya dua juta saja. Pertanyaannya apakah anak Anda mau?
Langsung berangkat dong. "SIAPP", begitu katanya. Kok bisa? Bisa dong. Kan baru saja dapat 'setoran' sejumlah 20 juta, ditarik 2 juta masih ada saldo di rekening bank emosinya? Masih, yaitu 18 juta. Begitu dia kembali membawakan barang yang kita minta, kemudian kita sampaikan "Alhamdulillaah, terima kasih ya nak, semoga Allah membalas kebaikanmu".
Apresiasi yang kita berikan itu juga ada nilainya. Setor atau tarik? Setor dong. Nilai apresiasi di rekening bank emosi anak tidak setinggi jus alpukat yang kita berikan. Anggaplah nilainya hanya 17 juta. Kali ini dengan penambahan 17 juta berarti saldo di rekening bank emosinya sejumlah 35 juta.
Tak berapa lama, setelah Anda ganti baju, Anda kembali ke anak Anda sambil memintanya untuk belajar. Pikir Anda, "ah pasti mau lah, baru dapat 'setoran' banyak kok". Eh ternyata responnya di luar perkiraan Anda. Dia menjawab "Ah, ga mau Ah, capek belajar terus, ntar aja yaaa". Lho-lho.. kok ternyata begitu jawabannya? Tanya kenapa? Hehehe... karena permintaan Anda untuk dia belajar itu adalah sebuah 'tarikan' yang nilainya 50 juta!! Wajar dong menolak, SALDO TIDAK MENCUKUPI.
Terus gimana dong? Dimarahi?? Makin berkurang lah saldonya kalau dimarahi. Terus gimana? Yaa fokus untuk memperbanyak 'setoran' dulu kalau begitu. Biarkan dia main dulu, terlibat dalam permainan bersama dan seterusnya. Jadi kalau kita sebagai orang tua ingin lebih mendapatkan perhatian dari anak kita, pastikan kita telah cukup memberikan 'setoran' di rekening bank emosi mereka.
Semoga bermanfaat