Friday, December 5, 2014

Internet Aman Anakku Nyaman

Berdasarkan data dari Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo) diketahui bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia sampai mendekati pertengahan 2014 sudah mencapai 82 juta orang. Dengan pengguna internet sebanyak itu, Indonesia mendapatkan peringkat ke 8 dunia untuk jumlah pengguna internetnya. Adapun jumlah penduduk Indonesia menurut Badan Pusat Statistik hingga tahun 2010 telah mencapai 237 juta jiwa, itu artinya pengguna internet di Indonesia telah mencapai hampir 40% dari seluruh jumlah penduduknya.

Data yang tidak kalah menarik dari keseluruhan pengguna internet di Indonesia adalah sebanyak 80% pengguna ternyata berada pada range usia 15-19 tahun (remaja). Komposisi ini tidak terlepas dari data lain mengenai jumlah pengguna situs jejaring social facebook di Indonesia yang mendapatkan peringkat ke- 4 dunia. Tentu saja hal ini adalah fenomena yang sangat menarik untuk dicermati bersama, utamanya kalangan orang tua dan pendidik.

Menurut penelitian yang dilakukan di negara-negara Barat maupun Timur, didapatkan data bahwa sekitar 1,4%-17,9% remaja mengalami adiksi internet. Data tambahan menyebutkan bahwa 70% pengguna internet di Korea dilaporkan bermain online games. Bahkan 69% remaja bermain games di komputer lebih dari 2 jam setiap hari dan 18% diantaranya didiagnosis sebagai game addicts.

Bagaimanapun juga, keberadaan internet adalah ibarat mata pisau. Internet sangat potensial untuk membantu anak-anak dan para remaja menjelajahi dunia luar, mengeksplorasi berbagai macam ilmu dan pengetahuan terkini dari seluruh belahan dunia. Internet juga bermanfaat untuk membangun hubungan pendidikan juga memperluas hubungan dengan guru dan teman. Pada sisi yang lain, kita harus mengakui juga bahwa munculnya banyak perilaku negatif dari anak-anak dan remaja akhir-akhir ini, tidak dapat dilepaskan juga dari dampak keberadaan internet ini. 

Minimal ada 3 jalur utama untuk menjadikan seorang anak dan remaja bisa menjadi seorang pecandu internet. Tiga jalur tersebut yaitu melalui jalur social media (facebook, twitter, dll) , lalu melalui game online yang kini kian merebak, kemudian melalui konten-konten berbau pornografi yang dengan mudahnya bisa diakses siapapun di dunia maya.

Diantara ketiga jalur tersebut, game online adalah salah satu topik yang akhir-akhir ini marak diperbincangkan di kalangan orang tua dan guru. Munculnya beragam kasus kecanduan game online yang dialami anak dan remaja membuat banyak pihak terutama sekolah aktif mensosialisasikan dampak game online ini untuk perkembangan anak dan remaja.

Terdapat beberapa gejala psikologis dan fisik dari kecanduan internet. Diantaranya adalah :
1. Berbohong mengenai penggunaan waktu yang lebih
2. Mengalami persaan kosong, stress atau iritabel bila dicegah untuk online
3. Tidak peduli dengan hubungan interpersonal
4. Keinginan untuk tetap online meningkat
5. Mata menjadi kering
6. Muncul perasaan tidak dapat dan tidak ingin berhenti
7. Mengalami insomnia atau gangguan tidur
8. Mengalami migrain
9. Mulai muncul masalah dalam hal akademik atau sekolah

Lalu apa saja cara yang harus dilakukan oleh orang tua untuk menanggulangi permasalahan ini atau untuk meminimalisir meluasnya permasalahan ini? Beberapa aturan ber-internet aman berikut ini bisa diterapkan :

a. Orang tua seharusnya memiliki pengetahuan lebih tentang internet
Syarat agar aktivitas online anak bisa terpantau dengan baik adalah orang tuanya harus memiliki pemahaman yang baik dulu tentang internet. Orang tua bisa mempelajarinya dari buku, dari mailing list atau meminta bantuan orang lain yang paham untuk memberikan privat training tentang internet dan pernak-perniknya. 

b. Orang tua bisa membuat aturan main tentang penggunaan internet di rumah
Orang tua bisa membuat kesepakatan khusus dengan anak, kapan saja anak boleh menggunakan internet. Kalau perlu ditambahkan dengan reward and punishment agar anak tetap mematuhi aturan yang dibuat. Selain itu, bisa disampaikan aturan main saat berinternet seperti tidak memberikan informasi pribadi ke dunia maya, kemudian memberikan pemahaman tentang kejahatan cyber, dan lain sebagainya

c. Memasang software khusus untuk pengamanan
Orang tua bisa membeli dan kemudian memasang software-software khusus yang berguna untuk mengontrol akses dan aktivitas anak saat berinternet. Akan menjadi lebih baik lagi kalau software yang digunakan juga bisa memblokir situs-situs yang tidak layak untuk anak-anak atau bahkan juga bisa membatasi seberapa lama mereka bisa beraktivitas di dunia maya.

d. Orang tua membangun komunikasi yang baik dengan anak
Dengan terjalinnya proses komunikasi yang baik antara anak dengan orang tua, saat anak mulai terlihat mengalami kecanduan, maka orang tua akan jauh lebih mudah untuk memberikan informasi atau arahan agar anak lebih tahu tentang apa manfaat dan bahaya yang mungkin muncul dari aktivitas penggunaan internet

e. Penempatan komputer atau media untuk online di tempat terbuka
Komputer, laptop atau apapun media yang bisa digunakan anak untuk online sebaiknya diletakkan di tempat terbuka, sehingga mudah dipantau. Jangan belikan anak dan remaja telepon seluler yang dapat mengakses internet karena pengamanan di telepon seluler tidak sebaik komputer atau laptop.

f. Orang tua menjadi role model yang baik untuk anak
Dalam kesehariannya, sebaiknya orang tua juga menunjukkan di depan anak dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang positif dan produktif, misalnya saja membaca, olah raga, menulis, ibadah, dll. Jangan sampai anak justru sering melihat orang tua sering asyik sendiri dengan gadgetnya atau dengan aktivitas online-nya. 

g. Memantau aktivitas anak sehari-hari
Saat anak mulai kecanduan internet, bisa jadi karena terlalu banyaknya waktu luang yang dimilikinya. Maka orang tua bisa melakukan pengamatan lebih lanjut, apa saja aktivitas fisik yang disukai oleh anak sehingga saat anak mulai keranjingan internet, orang tua bisa mengalihkannnya dengan melibatkan anak pada kegiatan lain yang disukainya.

Tentu saja tidak hanya orang tua saja yang harus berperan dalam hal mengatasi kecanduan anak dan remaja terhadap internet ini. Semua pihak mulai dari orang tua, guru, institusi pendidikan, pemerintah harus bersama-sama untuk mengawasi anak, remaja, dan muridnya, khususnya bagi yang masih di bawah umur, membekali mereka dengan pengetahuan mengadapi perkembangan teknologi agar keberadaan teknologi termasuk internet bisa berdampak positif bagi mereka.



Referensi :


Young, Kimberley. 2009. Understanding Online Gaming Addiction and Treatment Issues for Adolescents. The American Journal of Family Therapy, 37:355–372.
Heman Elia. 2009. Kecanduan Berinternet dan Prinsip-prinsip untuk Menolong Pecandu Internet. Jurnal Veritas, 10/02, 285-299.
Yeelowlees PM, Marks S : Problematic Internet use or Internet Addiction? Computers in Human Behavior 2007 ; 23: 1447-1453
Edy, Ayah.2013. Ayah Edy Menjawab : 100 Persoalan Sehari-hari Orang Tua yang Tidak ada Jawabannya di Kamus Mana Pun. Jakarta : Noura Books. 
Santrock, John W. 2002. Life Span Development. Jakarta : Erlangga 
Hurlock, Elisabeth B. 1991. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga
 
   
 

Tuesday, December 2, 2014

Menikmati Kekinian

Pagi ini, hujan telah selesai membasahi bumi. Menyisakan kesejukan, meninggalkan kedamaian dan ketenangan dalam diri. Menggerakkan diri untuk sejenak menyendiri, menuliskan jejak-jejak kehidupan yang beberapa waktu ini mengumpul menjadi satu dalam benak sanubari.

Akh...betapa setelah hujan kemudian akan timbul panas. Bukankah setelah siang akan timbul sore, sore menjadi malam, malam menjadi pagi dan seterusnya. Demikianlah fitrah kehidupan yang kita biasanya jalani bukan? Pergantian itu adalah sebuah hal yang wajar. Ya, pergantian yang barangkali kalau diterjemahkan dengan bahasa populernya adalah perubahan. Kalimat saktinya adalah perubahan terjadi setiap saat sehingga setiap saat pula perubahan harus diciptakan.

Maka benarlah sebuah kalimat bijaksana yang mengatakan kalau mencintai seseorang cintailah dengan sederhana, karena bisa jadi suatu saat dia akan jadi orang yang kau benci dan demikian pula sebaliknya. Tidak ada yang kekal di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri dan tentu saja Dia Yang Maha Agung. Maka saat senang, saat sedih mari kita syukuri saja untuk keduanya atau juga untuk kondisi yang lainnya. 

Beberapa hari yang lalu, salah satu kerabat saya meninggal dunia. Alhamdulillaah masih ada kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum beliau dikebumikan. Sempat merasa 'trenyuh' di saat-saat terakhir itu, sambil menggumam dalam hati, pada saatnya aku akan menyusul beliau.  

Lalu kapan? Lalu sudahkah engkau merasa siap menghadapi yang disebut dengan kematian itu? Pertanyaan klasik yang sepintas muncul dan sampai saat ini belum selalu memberikan dampak yang signifikan untuk lebih bersemangat mengisi hidup dengan kebaikan yang jauh lebih banyak lagi.

Salah seorang sahabat pernah berkata,"maka seharusnya mengingat kematian adalah salah satu motivasi yang menggerakkan diri kita untuk produktif bro". Mendengarnya saya bertanya lagi padanya, "bagaimana bisa sahabatku?". Sahabat saya terdiam sejenak, lalu berkata "kita tidak pernah tahu kapan waktu terakhir kita di dunia ini, maka asumsikan saja bahwa bisa jadi aktivitas yang kamu lakukan adalah kesempatan terakhir kamu melakukannya, sehingga kamu akan berupaya untuk melakukan yang terbaik pada aktivitas tersebut. Inilah MENIKMATI KEKINIAN" ujar sahabat saya menutup pembicaraan kami.