Friday, February 28, 2014

Untukmu Hafidz, Kuberikan Hatiku

Baru saja membaca sebuah berita yang menarik mengenai kisah seorang ayah yang mendonorkan organnya untuk proses transplantasi hati si anak. Transplantasi hati adalah operasi besar yang melibatkan penghapusan rusak atau sakit hati dari tubuh dan menggantikannya dengan yang sehat dari donor. Sang anak bernama Muhammad Sayid Hafidz sedangkan sang ayah bernama Sugeng Kartika. "Alhamdulillaah... semuanya lancar" demikian kata-kata singkat sang Ayah yang juga baru dalam masa pemulihan. 

Menurut informasi yang saya dapatkan dari mbah Google, Dek hafidz ini mengalami sesuatu yang disebut dengan sindrom alagille. Sindrom ini merupakan penyakit genetik yang mempengaruhi fungsi hati, jantung, ginjal, dan sistem lain dalam tubuh seseorang. Merupakan bawaan lahir dan sebenarnya sangat jarang terjadi. Terjadi hanya pada satu per 100.000 kelahiran hidup.

Ah... saya jadi terharu membaca kisah ini. Entah apa yang menggelayut di pikiran saya. Langsung terbayang sosok Ayah, lelaki hebat di dunia ini.Seorang laki-laki yang kasih sayangnya kepada anak-anaknya tak akan ada yang bisa menyainginya. Seorang laki-laki yang telah menjadi panutan paling awal untuk memiliki sifat sebagai seorang pemimpin.

Membaca kisah ini mengingatkan saya tentang sebuah pesan yang selalu saya sampaikan saat saya diundang untuk berbagi di depan para siswa SMP, SMA, atau mahasiswa yang belum menikah. Bahwa saat mereka masih sekolah, fokuslah untuk sekolah, nda usah pacaran. Sebelum ada proses resmi menikah, maka alangkah lebih baik kalau kasih sayang yang kita miliki kita berikan lebih kepada lingkaran terdekat kita yaitu keluarga. Entah itu ayah, ibu, adek, kakak, mereka yang akan menerima kita apadanya, dalam kondisi apapun kita. 

Entah apa yang ada di pikiran pak Sugeng saat memutuskan untuk menjadi pendonor bagi anaknya. Bukan sebuah hal yang mudah untuk mendonorkan organ tubuh yang sangat berharga untuknya, hati. Terlebih lagi resiko yang mungkin muncul bagi pendonor di kelak kemudian hari juga tidak ringan. Ada resiko kematian, kebocoran empedu, kegagalan organ yang mengakibatkan perlunya transplantasi organ di masa depan bagi pendonor. Sebagaimana yang diinformasikan di situs ini.

Satu hal yang pasti, kesadaran dan kasih sayang sebagai seorang Ayah-lah yang bisa jadi membuat pak Sugeng berani maju untuk pendonor. Semangat (dan tentunya dengan izin dan kemurahan Allah SWT) akhirnya biaya untuk transplantasi hati Hafidz bisa terkumpul. Padahal, jumlah biayanya juga tidak kecil, tidak tanggung-tanggung, untuk sebuah operasi transplantasi hati, membutuhkan dana 1,6 miliar. Awalnya, sebuah hal yang mustahil tercukupi oleh pak Sugeng, dengan keadaan ekonomi keluarganya yang pas-pasan.

Semoga Hafidz dan pak Sugeng sehat, semoga Allah SWT selalu berikan barakahNya, kasih sayangNya untuk pak Sugeng dan keluarganya. Aamiin..

It’s About Learning Styles of Children (Part 2)



   …..
Sebelumnya kita sudah membahas mengenai Visual styles. Sebelum kita lanjutkan ke dua model yang lain (Auditori dan Kinestetik), barangkali ada yang bertanya, lalu bagaimana kalau ternyata orang tua atau pengasuhnya memiliki model yang berbeda dengan sang anak? Nah, di sinilah fleksibilitas diperlukan. Pilihannya adalah bertahan dengan modelnya sendiri dan mengabaikan bagaimana model sang anak dengan hasil yang sangat mungkin tidak optimal atau mencoba untuk masuk ke dunianya anak dengan model yang dia sukai sehingga bisa memberikan hasil yang optimal. Semuanya dikemballikan ke masing-masing.

Oya, satu lagi yang perlu dicermati mengenai representasi internal ini yaitu mengenai konteks penggunaannya. Kali ini yang sedang kita bahas adalah bagaimana model representasi seseorang (anak) terkait dengan model belajarnya. Pertanyaannya, apakah mungkin seorang anak yang visual dalam hal belajar, tetapi bisa menjadi auditory dalam hal lain? Sangat mungkin. Perlu kecermatan lebih dari orang tua atau pendidik untuk mengetahuinya.

Baik, mari kita lanjutkan ke model berikutnya. Model lain selain visual adalah auditori dan kinestetik. Anak dengan model belajar auditori, biasanya lebih suka mendengarkan seseorang membacakan sebuah buku kepadanya dari pada dia membacanya sendiri. Kalaupun dia membacanya sendiri, maka dia akan cenderung mem-verbal-kan bacaannya ketimbang diam. Mereka juga suka berbicara dengan dirinya sendiri.

Anak auditori adalah anak yang lebih mudah dalam belajar musik. Saat mendengar orang menyanyi, dia akan dengan mudah tahu apakah nada yang dinyanyikan oleh penyanyi selaras dengan irama musiknya. Saat si anak pintar memainkan alat music, maka saat dia mendengarkan sebuah lagu, biasanya lebih mudah baginya untuk mendendangkan lagu tersebut dengan alat musiknya, tanpa dia tahu sebelumnya apa chord dari lagu tersebut.

Untuk memperbanyak kosakata bagi anak auditori, disarankan untuk membakan cerita menjelang waktu tidurnya. Belajar dengan menyuarakan kata-kata dengan mimik atau suara lucu juga akan membuat belajarnya menyenangkan.

Untuk memotivasi anak auditori, gunakan memori auditory yang dimiliki. Kalau dia memiliki sosok yang dia kagumi, minta dia untuk membayangkan sosok yang dia kagumi untuk berbicara kepadanya. Bisa juga untuk meminta dia membayangkan suara-suara apa saja yang dia ingat saat dulu dia mengalami momentum yang menyenangkan dalam hidupnya. Begitupun kalau dia merasa jengkel dengan temannya. Akan lebih mudah membuat amarahnya mereda saat memintanya untuk mengubah suara teman yang membuatnya marah itu dengan suara lain yang membuatnya tertawa.

Sekarang kita masuk ke model Kinestetik. Anak kinestetik biasanya aktif dan cenderung gelisah kalau diminta hanya diam saja. Model pembelajaran anak model ini adalah dengan memperbanyak praktik. Dia bisa memberikan respon baik saat belajar dengan menggunakan komputer karena biasanya media pembelajarannya adalah interaktif. Maka carilah media pembelajaran via komputer yang menarik untuknya.

Anak kinestetik akan sangat memperhatikan terhadap suhu sebuah ruangan tempat dia beraktivitas. Saat dia merasakan suhu ruangan terlalu panas atau terlalu dingin tentu saja itu akan membuatnya tidak nyaman, termasuk saat dia belajar.

Anak kinestetik akan menikmati model pembelajaran berpasangan. Dimana mereka akan saling mempraktikkan satu sama lain pembelajaran yang mereka terima. Belajar dengan menggunakan contoh atau tutorial juga akan lebih dia nikmati.

Model kinestetik akan banyak mengingat peristiwa atau hal apapun yang sangat berarti untuknya, tentunya dengan lebih banyak melibatkan rasanya. Tidak selalu hal yang menarik menurut orang visual menarik juga menurut orang kinestetik.Saat memakai pakaian misalnya, bagi anak kinestetik yang penting pakaian itu adalah nyaman untuknya, meskipun mungkin orang visual akan melihatnya sebagai pakaian yang tidak pas dari komposisi warnanya.

-end-

It’s About Learning Styles of Children


 
Pernahkah anda mendengar seseorang mengatakan begini :

Saya melihat hal itu sebagai bagian dari skenario untuk membuatnya menjadi juara”
“Saya mencermati hal itu sebagai cara agar dia tetap bertahan dengan pilihannya”
“Saya mendengar itu dari sebuah surat kabar yang terbit kamis kemarin”
“Saya merasa hal tersebut tidak terlalu penting untuk dibicarakan lagi”



Oke, kalau kita cermati kata-kata yang bergaris bawah, adakah perbedaannya? Yup, betul sekali. Dua kalimat awal menunjukkan penggunaan kata yang menonjolkan sisi visual dari seseorang. Kalimat ketiga menujukkan sisi auditorial sedangkan kalimat ketiga menunjukkan sisi kinestetik dari seseorang.

Seperti kita ketahui bersama bahwa seseorang menyaring informasi yang masuk melalui tiga hal yaitu berdasarkan pengalaman yang pernah dialami sebelumnya (generalisasi), berdasarkan system nilai dan kepercayaan yang kita miliki dan yang ketiga adalah melalui representasi internal kita. Nah, Visual, Auditory, dan Kinesthetic adalah 3 unsur dalam representasi internal kita.

Memahami dengan baik representasi internal yang dimiliki oleh anak kita akan memudahkan kita dalam memahami lebih baik bagaimana kita bersikap, bertutur kata, berperilaku terhadap anak-anak. Bagaimana lebih mudah masuk ke dunianya dengan representasi internal yang mereka miliki, termasuk di dalamnya memberikan motivasi kepada mereka.

Seorang anak yang representasi internalnya adalah visual, dia termasuk anak yang arty. Mencermati betul terhadap apapun yang dia lihat dan sangat memperhatikan dengan bagaimana pandangan orang lain terhadap dirinya maupun pandangan orang lain terhadap sesuatu. Anak visual lebih aware dengan hal-hal yang berbau visual daripada hal-hal yang dia dengar.

Seorang anak visual adalah seorang pengamat yang baik. Dia bisa memberikan catatan khusus mengenai hal-hal tertentu yang dia lihat dari benda maupun peristiwa yang dia lihat. Non verbal test bagi dia akan lebih mudah dia kerjakan. Anak visual adalah seorang pembaca yang baik dan memiliki kemampuan untuk membayangkan atau membuat imajinasi atas hal yang baru dia baca.

Untuk memberikan motivasi kepada anak visual, kita bisa menggunakan memori visual yang dia milliki sebelumnya. Itu akan lebih mudah masuk dalam pikirannya. Saat dia mengerjakan sesuatu, akan sangat terganggu apabila ada banyak visual distract. Apa itu visual distract? Sesuatu yang bisa mengalihkan perhatiannya seperti banyak orang berlalu lalang, adanya televisi yang terletak di dekat tempat dia belajar. Sangat direkomendasikan untuk membuat ruangan belajar yang ergonomis. Ruangan yang membuat dia nyaman melakukan aktivitasnya.

Oke, mengenai Auditory dan Kinestetik akan kita bahas di artikel selanjutnya….
See U…

Tuesday, February 25, 2014

The Ground Rules for Parents (part 2)

Baiklah... mari kita lanjutkan pembahasannya...
Kemarin, kita telah membahas 5 hal, lainnya akan kita bahas di bagian ini.

6. If You try, you won't succeed
Yang sering kita sampaikan adalah "Ayo coba lakukan" atau mungkin sebuah pertanyaan seperti "bisakah kau mencoba untuk melakukannya?". Menjadi sebuah pemahaman yang rancu apakah yang diberikan perintah hanya diminta mencoba saja, gagal itu wajar ataukah ada penekanan agar si penerima perintah merasa 'harus' melakukannya? So, akan lebih memberdayakan saat kata "try/coba" kita ganti dengan "do it/ Lakukan".

7. The Map is not the territory
Kalau kita melihat sebuah peta yang terpampang, apakah itu mencerminkan keadaan yang senyatanya dari daerah tersebut? Tentu tidak bukan. Demikian juga saat kita (as parents or adults) berhubungan dengan anak-anak. Map kita dalam menyikapi sebuah hal tentu saja berbeda dengan Map anak-anak. Artinya, kita tidak bisa memaksakan pola pikir kita kepada anak-anak. Cara lebih baik adalah pahami dulu bagaimana pola pikir mereka, masuk ke dunia mereka dan ubahlah mereka menggunakan pola pikir yang mereka miliki. Ah.. bukankah saat kita memasukkan kaki kita ke sepatu anak-anak, maka sepatu itu menjadi tidak muat di kaki kita, kawan?

8. Look the poitive intention
Yakini bahwa di balik setiap perilaku seseorang pasti terkandung sebuah niatan yang positif. Maka saat menghadapi perilaku anak yang 'berbeda', sebaiknya ada upaya dari parents untuk menggali lebih jauh, apa sebenarnya niat positif yang ingin anak sampaikan dibalik perilaku tersebut?

9. Mind the gap
Seringkali kita bereaksi atas sebuah hal yang terjadi pada diri kita secara 'associate' (melihat langsung dari sudut pandang kita-menjadi kita sendiri). Padahal untuk melihat lebih jernih sebuah permasalahan, termasuk dengan anak-anak. Kita perlu melihat dengan 'dissassociate' (kita melihat diri kita, atau kita menjadi orang lain melihat masalah tersebut). Keuntungannya, dalam posisi 'dissassociate' ini, kita bisa jauh lebih objektif karena keterlibatan emosional sudah sangat terkurangi.

10. The person with the most flexibility controls the system
Sebagaimana pesenam yang begitu pandai meliuk-liukkan badannya sehingga banyak gerakan akrobatik yang bisa dilakukan, kita pun perlu menjadi fleksibel dalam menerapkan semua pemahaman ataupun aturan-aturan yang telah kita pahami terkait dengan pengajaran kepada anak-anak. Sebuah aturan bisa jadi baik dalam konteks tertentu, dan menjadi sangat tidak efektif dalam konteks yang lain. Maka fleksibilitas dan kreativitas sangat diperlukan dalam aplikasikan aturan-aturan yang sudah ada agar bisa berdampak positif kepada anak. 

#END

About Love Stories (Part 2)

Oke.... kita lanjutkan Lope Story-nya.... hehehe...

Beliau berdua, Pak Sarjiyo dan Pak Parjono adalah penyandang cacat yang terbilang sukses. Walaupun ternyata di balik kisah sukses beliau berdua ternyata ada sebuah kisah cinta yang sangat mempengaruhi perjalanan kesuksesan mereka. Bagaimana bisa?

Pertama, Pak Parjono pun memulai kisahnya. Beliau cacat saat masih berusia 3 bulan. Perjalanan bisnisnya diawali dengan menjadi seorang montir elektronik, kerjaannya apa? Kerjaannya mbenerin kalau ada radio rusak, TV rusak dll. Kemudian dalam perkembangannya, beliau mulai membuka toko kecil-kecilan. Mulai dari toko kecil itu, ternyata pelanggannya mulai banyak, otomatis, jenis dan jumlah barangnya pun semakin bertambah. Bermodalkan semangat dan kejujuran juga kreativitas, akhirnya saat ini Pak Parjono berhasil memiliki 3 toko elektronik. 

Ternyata eh ternyata, ada satu cerita penting yang ditambahkan oleh Pak Parjono ini. Apa itu? Keberadaan isteri beliau yang sangat mensupport beliau untuk maju. Saat ada keraguan dan ketidakyakinan mulai mengghinggapi pak Parjono, isterinya-lah yang menguatkan beliau untuk yakin dan tetap melangkah. Isterinya juga yang tak pernah henti memberikan semangat kepada beliau untuk belajar banyak hal, termasuk belajar naik motor dan belajar mengendarai mobil sendiri. "Isteri saya juga penyandang disabilitas, dan dialah supporter saya yang luar biasa" begitu kata pak Parjono. (..ssst...ngomong-ngomong nih... sambil dengerin cerita beliau, ingatan saya juga langsung melayang ke isteri saya tercinta...dalam hati saya berkata... "Bener sampeyan pak, isteri saya adalah supporter luar biasa juga bagi saya, kita sama-sama beruntung pak, dianugerahi isteri yang sama-sama luar biasa")

Kedua, jatahnya pak Sarjiyo sekarang untuk cerita. Beliau sekarang bergerak di bidang kuliner, warung makan pagi dan malam, ditambah juga mengelola sebuah angkringan. Beliau pun berbagi mengenai bagaimana akhirnya beliau bisa memiliki bisnis dan bersemangat untuk mandiri. 

Beliau mengalami cacat di kakinya pada usia 23 tahun. Dua tahun setelah menderita cacat di kaki, beliau memberanikan diri untuk melamar seorang gadis yang akhirnya menjadi isterinya. Dikaruniai seorang anak, pasangan ini akhirnya memutuskan untuk berpisah. Isteri pertama beliau ini (karena kemudian beliau menikah lagi) ternyata belum bisa menerima apa adanya kondisi pak Sarjiyo yang mengalami cacat ini. 

Sempat mengalami kesedihan yang cukup lama, karena sejatinya keinginan beliau adalah menikah untuk yang pertama sekaligus terakhir (sama seperti saya pak, insya Allah) Pak Sarjiyo pun memutuskan untuk move on dan menikah lagi. Beliau menikah dengan seorang gadis yang sering berkunjung ke usaha giling tepungnya, dia yang mencintai dan mau menerima pak Sarjiyo apa adanya. 

Setelah menikah bisnis pak Sarjiyo pun semakin berkembang. Gilingan tepungnya terus berjalan, lalu merambah ke bisnis warung makan pagi sampai sore. Semakin kreatif lagi dengan membuka warung bakmi dan nasi goreng di malam hari. Kemudian berlanjut dengan mengakuisisi angkringan milik tetangganya. Pak Sarjiyo pun menyampaikan bahwa ada sebuah kalimat luar biasa yang pernah disampaikan isterinya, " Pak, bapak harus semangat selalu, saya menerima njenengan apa adanya. Jadi apa adanya ayo kita jalani hidup sama-sama"

Hmm... cerita dari pak Parjono dan Pak Sarjiyo makin menguatkan ingatan saya tentang kata-kata ini "dibalik pria sukses, pasti ada wanita luar biasa yang menyertainya"




*Sejenak terdiam, menutup mata, lalu berucap syukur atas anugerah luar biasa yang DIA berikan kepada saya, isteri yang sungguh luar biasa

#END


Monday, February 24, 2014

The Ground Rules for Parents

Kembali ingin mengapresiasi gagasan yang diusung oleh Ayah Edy, salah seorang pakar parenting di Indonesia. Beliau membuat sebuah gagasan yang sangat mendasar untuk perkembangan bangsa Indonesia ini, "Indonesian Strong from Home". Bagaimana membangun Indonesia menjadi sebuah negara maju dan berdaya dengan memulainya dari lingkungan rumah atau keluarga. 

Saya, sebagaimana Ayah Edy, juga banyak berinteraksi dengan para orang tua yang anaknya menjadi klien di Omah Tentrem. Omah Tentrem adalah kantor saya, tempat pelatihan sekaligus klinik hypnotherapy dan klinik konsultasi. Berdasarkan interaksi dan juga diskusi dengan para orang tua ini, saya pun memiliki pendapat yang sama dengan apa yang sudah dicetuskan oleh Ayah Edy tersebut, "Indonesian Strong from Home".

NLP (Neuro Linguistic Programming) salah satu disiplin ilmu pengembangan diri yang berkembang saat ini, dari penggalian data melalui pelatihan dan buku serta aplikasinya di lapangan, ternyata memberikan banyak masukan berharga untuk program Indonesian Strong from Home ini.

Oke, mari kita masukkan beberapa presuposisi NLP untuk kita kaitkan dengan bagaimana kita bisa jauh lebih baik untuk menjadi sosok orang tua. Pembahasan ini saya dapatkan dari buku "Passing the 11+ with NLP" karya Judy Bartkowiak dan Carolyn Fitspatrick". Let's start!!

1. If You always do what you've always done, then you will always get what you've always got
Saat kita menginginkan perubahan dari perilaku orang lain, siapapun itu, termasuk anak kita, maka yang pertama harus kita ubah adalah perilaku kita sendiri terlebih dahulu. Hal yang mendasari perubahan perilaku kita adalah belief kita. Jadi kalau kita misalnya memiliki belief-belief yang membatasi diri kita, apalagi itu terkait dengan anak kita, ubah segera belief-belief tersebut kemudian terjemahkan pula dalam bentuk perubahan perilaku. 

2. You have the resources to do whatever you want to do
Satu keyakinan penting yang harus kita miliki yaitu orang tua dan anak, keduanya pada dasarnya sudah memiliki seluruh sumber daya yang diperlukannya untuk mencapai keinginannya. Kesadaran akan hal ini akan membuat orang tua dan anak bisa lebih bersemangat untuk melakukan penggalian ke dalam dirinya masing-masing guna menemukan sumber daya apa yang bisa mereka gunakan untuk menyelesaikan permasalahan atau tantangan yang mereka hadapi dalam kehidupan mereka sehari-hari.

3. If someone else can do it, you can too
Nothing is impossible. Tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau. Manusia pada dasarnya memiliki kemampuan untuk mengakuisisi skill apapun yang dimiliki oleh yang lainnya. Apalagi jika ini kita terapkan pada dunia anak-anak. Mereka adalah pemodel ulung untuk perilaku atau keahlian apapun yang mereka jumpai dalam keseharian mereka. Jadi saat kita ingin menguasai keahlian tertentu, lihatlah bagaimana orang lain (yang ahli dalam hal tersebut) melakukannya. Pengkondisian ini tentu berlaku juga untuk anak kita.

4. There is no failure, only feedback
Seperti yang telah di bahas di point nomor 2, bahwa setiap orang pada dasarnya telah memiliki sumber daya yang bisa digunakan untuk mencapai apa yang dia inginkan. Termasuk bagian dari yang dimaksud dengan sumber daya ini adalah kegagalan yang pernah dialami. Lho apa yang bisa dipelajari dari sebuah kegagalan? Yang bisa dipelajari adalah polanya. Saat kita tahu dengan pola A misalnya belum berhasil (dalam konteks tertentu), maka sebaiknya tidak ada pengulangan pola yang sama jika ingin berhasil. Itu artinya kita telah mendapatkan umpan balik untuk harapan keberhasilan selanjutnya. Saat pola tertentu belum berhasil untuk mengubah perilaku anak, itu artinya ada sebuah feedback untuk segera menggantinya dengan pola pendekatan lain.

5. If you spot it, you've got it
Saat orang tua mau memperhatikan betul bagaimana perilaku anak-anaknya, maka hasil dari 'memperhatikan betul' ini bisa kita gunakan menjadi sumber daya dalam pendidikan dan pengajaran anak sehari-hari. Misalnya saja, kita tahu anak memiliki tokoh idola tertentu yang dikaguminya, maka 'tokoh idola' ini (semoga tokoh idolanya berperilaku baik) bisa kita gunakan sebagai tool untuk memasukkan informasi-informasi tertentu yang ingin kita sampaikan kepada anak, alih-alih hanya menggunakan nasehat biasa saja.

Masih ada beberapa ground rules yang akan kita bahas pada artikel selanjutnya... sabar yaa... hehehe....



Sunday, February 23, 2014

About Love Stories (part 1)

Wow... Today is a great Day!!!

Lho kok bisa?
Iya....
Alhamdulillaah... banyak agenda yang bisa terselesaikan...
Mulai dari agenda silaturrahmi, agenda diskusi dengan istri, agenda berbagi... dan beberapa yang lain...

Ternyata memang ada kepuasan tersendiri ya saat dalam sebuah waktu, ada banyak agenda yang bisa terselesaikan. Serasa ada banyak energi positif yang terkumpul. Hidup menjadi ceria dan penuh warna. Apalagi bersama keluarga, bersama isteri tercinta.... hahahaha...malah ngelantur kemana-mana...

Nah, ada hal menarik yang bisa saya sharingkan. Ini terkait dengan cerita yang disampaikan oleh pak Sarjiyo dan Pak Parjono. Siapa beliau? Beliau berdua adalah pembicara untuk tema success story bagi orang tua yang memiliki anak penyandang cacat. Beliau berdua adalah penyandang cacat yang berhasil dengan bisnisnya masing-masing.

Pak Parjono dengan bisnis jaringan toko elektroniknya, pak Sarjiyo dengan dengan bisnis kulinernya. Selama hampir 1,5 jam, beliau berdua berbagi pengalaman beliau dalam membangun bisnisnya. Bagi saya, saaangat menarik untuk dicermati dan tentu saja... didengarkan dengan seksama walaupun hanya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya... hahaha...proklamasi kalii...

Lah...terus.. apa hubungannya dengan judul dari tulisan ini brow?? Kok judulnya "about Love Stories"?. Hehe...sabar dulu, sebentar lagi akan saya jawab pertanyaan yang barangkali menggelayut di pikiran pembaca artikel ini. Apa emang penyebabnya? tidak lain tidak bukan karena salah satu inti dari apa yang disampaikan oleh Pak Parjono dan Pak Sarjiyo adalah keberadaan "cinta" yang membuat beliau berdua bisa berhasil dengan bisnisnya masing-masing.

Ya... cinta memang indah, cinta memang memiliki kekuatan besar untuk menggerakkan seseorang. Cinta adalah perasaan alami yang dimiliki oleh setiap orang. Dan itu terbukti pada perjalanan hidup seorang pak Parjono dan Pak Sarjiyo. Mau tahu kisah lengkapnya? Mari kita nikmati di edisi selanjutnya dari tulisan ini...

Cu...

To be continued....

Monday, February 17, 2014

Valentine Days bersama Kelud



 
Hari itu, kamis malam Jumat, tercatat di kalender tanggal 13 Februari 2014, 1 hari sebelum hari kasih sayang atau yang sering disebut dengan hari valentine. Saya ingatnya kalau besoknya hari valentine itu juga gara-gara pas saya keluar rumah bareng istri dan melihat baliho besar yang berisi iklan acara valentine. Actually, saya juga ga begitu paham tentang valentine, kenapa yang dipilih tanggal 14 Februari bukan tanggal yang lain. Entahlah…

Anyway, sampai malam itu suasana kota Jogja masih tampak cerah. Secara umum kondisinya tenang dan aman-aman saja. Sampai acara saya bersama teman-teman usai, kondisi cuaca sepertinya masih baik. Sama sekali tidak tahu bahwa saat perjalanan pulang itulah saat terjadi letusan Gunung Kelud. Kami baru sadar setelah sampai rumah, seperti terdengar suara dari atas. Kaca rumah kami seperti bergoyang dan itu terjadi beberapa kali. Awalnya kami kira biasa-biasa saja, ternyata itu letusan gunung Kelud yang suaranya terdengar sampai Jogja.

Pagi hari, selepas shalat subuh, kami dikejutkan oleh suara tetangga yang membangunkan kami. Saya kira ada apa, kok manggilnya kenceng banget. Ternyata beliau menawarkan untuk sekalian beli masker, karena terjadi hujan abu vulkanik pagi hari itu di wilayah Jogja, Solo, Purworejo dan beberapa wilayah lain. Ya, abu yang berasal dari letusan Gunung Kelud menyebar hingga lintas provinsi, termasuk Yogyakarta yang jaraknya dari Kediri (lokasi Gunung Kelud) mencapai 300-an km.

Pagi hari itu, tepat tanggal 14 Februari 2014, saat Allah SWT kembali menunjukkan kuasanya, kembali menunjukkan kasih sayangNya dengan memberikan tambahan sinyal kepada bangsa Indonesia dengan meletusnya Gunung Kelud. Seperti halnya sebuah informasi yang dikirimkan sahabat saya tentang Gunung Kelud ini, ada sebuah sisi yang sangat menarik untuk dihubungkan.

KELUD dalam bahasa Jawa berarti membersihkan atau bisa juga di artikan semacam peralatan untuk membersihkan sesuatu. Entah bagaimana juga, kok ya nama daerah tempat gunung KELUD ini bernama KEDIRI. Jika kedua kosakata ini digabungkan KELUD dan KEDIRI, maka arti luasnya adalah MEMBERSIHKAN KE (dalam) DIRI. Kita diminta instropeksi ke dalam diri. Kita diminta mengingat lagi, siapa sejatinya DIRI kita ini. Bukankah kita itu tak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan kuasa Allah SWT? Bukankah kita diciptakan di dunia ini dengan sebuah maksud yaitu untuk beribadah kepadaNya? Untuk memberikan banyak manfaat kepada lingkungan di sekitar kita dan bukan memperkaya diri sendiri?

Mungkin inilah salah satu cara Allah untuk menyampaikan kasih sayangNya, hari kasih sayang (Valentine) bersama (gunung) Kelud.

Sufi Kecil itu Bernama Rahman



Beberapa waktu yang lalu, kantor tempat saya beraktivitas kedatangan seorang klien bernama Rahman. Rahman ini masih kelas 1 sebuah SMP di Jogjakarta. Rahman datang ke kantor bersama ibu dan kakeknya. Informasi awal yang saya dapatkan mengenai Rahman ini adalah dia memiliki kecemasan berlebih. Hanya itu saja. Sehingga begitu bertemu dengan orang tuanya, saya pun bertanya banyak hal mengenai Rahman ini untuk menyelaraskan dengan treatment yang  perlu saya lakukan guna membantu menyelesaikan permasalahan yang Rahman hadapi. 



Menurut ibunya, kecemasan berlebih yang dirasakan anaknya ini baru berlangsung kurang lebih 1 bulan. Awalnya, sang anak baik-baik saja. Setiap pulang sekolah ditanyai tentang kegiatan di sekolahnya pun menjawab dengan antusias. Sampai akhirnya kondisi tersebut berubah drastic setelah Rahman mengalami sebuah peristiwa yang amat mengganggu jiwanya. Sebuah peristiwa yang menjadikan Rahman menjadi khawatir setiap akan melakukan aktivitas baru. Rahman menjadi tidak tenang setiap akan keluar rumah, takut terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan pada dirinya.

Selesai wawancara dengan ibu dari Rahman, saya pun mempersilakan Rahman untuk masuk dalam ruangan, bergantian dengan ibunya. Sekilas melihat sosok Rahman ini, saya tak melihat adanya sebuah permasalahan yang berarti pada dirinya. Wawancara awal dengannya pun justru membuat saya kaget sekaligus kagum. Anak ini masih kecil, tapi pola pikirnya sangat dewasa. Saat saya tanya cita-citanya apa? Dia menjawab pengen jadi pengusaha. Kenapa pengen jadi pengusaha? Dia menjawab karena ga pengen jadi karyawan, maunya pengen langsung jadi direktur. Menariknya, jawaban-jawaban Rahman ini dia sampaikan dengan mantap dan tenang.

Sampai akhirnya, mulailah saya masuk ke inti permasalahan. And guess what? Inti permasalahannya adalah Rahman takut terhadap kematian. Ya, Anda tidak salah baca dan saya pun tidak salah tulis. Rahman kecil ini sudah berpikir jauh ke depan ; bagaimana jika tiba-tiba kematian menghampiri saya?

Sesuatu yang seakan sepele memang, tapi menurut saya, pertanyaan-pertanyaan seperti ini belum lazim disampaikan oleh seorang anak SMP seperti Rahman ini. Namun kenyataannya, yang terjadi adalah demikian. Seorang anak SMP ber’masalah’ dengan kekhawatirannya terhadap sesuatu yang sangat mendasar dalam hidup yaitu kematian.

Karena memang ingat mati akan sangat berpotensi membuat kita lebih produktif lagi akan segala hal. Karena ajal memang bisa menjemput kita kapanpun, dimanapun, dalam keadaan apapun. Maka tak ada pilihan lain kecuali memanfaatkan waktu yang masih diberikanNya, dengan melakukan sebanyak mungkin hal bermanfaat untuk menjadikan hidup kita berkah dan bermakna.

Kehadiran Rahman, bagi saya adalah ‘message’ dariNya untuk lebih ngeh tentang mempersiapkan diri lebih baik lagi. Utamanya adalah berupaya terus untuk berpegang teguh pada aturanNya, memanfaatkan waktu-waktu yang ada untuk menyelesaikan amanah yang diberikanNya kepada kita, menjadi perantaraNya untuk menjadi khalifah di muka bumi ini.

Thanks Allah, Thanks Rahman… You’re the most inspiring child.