Saturday, March 30, 2013

Sehari Menjadi "Ibu Rumah Tangga"


Wanita menurut saya adalah sosok yang patut untuk sangat dihormati dan dihargai oleh kita. Bukan apa-apa, semenjak kecil, itulah yang diajarkan oleh Ibu saya yang tentu saja beliau juga seorang wanita. Beliaulah numbero uno, sosok wanita yang sangat saya sayangi di dunia ini (selain istri saya kelak, hehe...).

Nah, itu sedikit pembukaannya saja. Selanjutnya, saya hanya ingin cerita sebuah pengalaman berharga yang saya dapatkan saat kurang lebih seminggu yang lalu saya berada di rumah saya di daerah Purworejo. Pada saat itu saya pulang ke rumah dalam keadaan yang kurang fit. Kemudian memang benar adanya bahwa begitu saya sampai rumah sampai hampir 5 hari kemudian, saya terpaksa harus bed rest di rumah, terkena komplikasi (matuk, milek, mumet, muntah, manas, megel, mules, dll).

Selama itu siapa yang ngerawat? Oh ya pastinya Allah, melalui perantara Ibu saya yang sungguh penyayang. Beliau rawat saya dengan sepenuh hati dan karena ikut mikirin juga kali ya, pada hari kelima itu akhirnya gantian ibu saya yang drop (tepatnya malam hari ke 5). Dimana saat itu saya panik bukan main karena pas malam itu ibu saya sama sekali tidak bisa bangun untuk berjalan, lemas sekali, dengan kondisi tubuh beliau yang panas ditambah sisa sakit batuk beliau yang sebelumnya belum sembuh juga. Malam itu juga akhirnya diperiksakan (diundang) bidan desa setempat dan sempet dikasih aba-aba kalau paginya harus mondok kalau masih belum bagus kondisinya. Waaah... makin tegang nih pikiran saya saat itu. Bu Bidan menyarankan ibu saya harus makan bubur mulai malam itu. Weittt... mikir lagi, malam-malam gini mana yang jualan bubur yak, mau buat belum bisa juga....

Akhirnya saya ambillah nasi, saya campur air sedikit lalu saya "uleg" (kaya buat sambel gitu deh) agar teksturnya lebih lembut. Mulai nih berperan jadi perawat seperti yang ibu saya lakukan selama saya sakit. Dari mulai nyiapin makanan, ngambilin minum, mijitin dan lain sebagainya. Alhamdulillaah... malam itu beliau sudah mulai ada asupan energi dan Alhamdulillaah (lagi) paginya sudah mulai bisa beraktivitas lagi walaupun belum fit keadaan beliau.

Peran saya masih lanjut, sambil batuk-batuk (akhirnya ngerasain juga seperti yang ibu saya rasakan, kondisi kurang fit tapi harus merawat orang sakit - saya-red-lima hari pula). Pagi-pagi itu akhirnya saya yang ngegantiin beberapa (baru beberapa lhoh) aktivitas rutin ibu saya di rumah. Mulai dari masak air, masak nasi,     ngeganti minuman ayam, kasih makan kucing, kasih makan ayam, jemur pakaian (sebelumnya udah dicuci ibu), belanja sayur dan lauk di pasar (belii lhoo, ga masak), sambil terus memastikan kondisi beliau sudah semakin baik.

"Gimana rasanya broo?" tanya diri saya saat itu sambil saya terus beraktivitas.
"Rasanya gimana maksud ente?" tanya saya lagi.
"Capek ga seharian ini tadi?" tanya dia lagi
"Waah.. kagak perasaan kau tanya seperti ini, jelaslaah... kondisiku kan juga lagi kurang fit, terus kudu ngerjain semua ini tadi, capek lah broo" tukas saya sambil menyeka keringat dingin yang terus keluar dari tubuh saya.
"Hahaha.... mangkanya, jadi ngerti kan gimana coba kalau jadi ibu. Kondisi beliau kemarin juga sama kaya ente kan? Tapi sebelum beliau bener-bener drop, bahkan beliau bisa lakukan lebih dari apa yang udah ente lakukan sehari ini. Tapii... pernahkah sedikitpun beliau ngeluh capek sama ente? Engga sama sekali kaan?" diri saya itu terus memberikan penjelasan
"Iya juga ya bro.." saya menimpali
"Nah itu dia, ini aja mending, ente udah gedhe, bisa bantu-bantu. Kebayang ga pas ente dulu kecil, sama adek ente, sama-sama sakit, bigimane rempongnya ente punya ibu. Belum lagi kalau salah satunya rewell.. hadeeeh..."lanjut diri saya itu sambil naruh tangan di jidat (capeeek deh...huehehe..)

Aah... masya Allaah...
Saya makin punya alasan untuk lebiiih hormat dengan sosok ibu saya ini dan siapapun wanita yang mereka begitu cinta dengan keluarganya, mengelola keluarga dengan perasaan cinta, kasih dan ketulusan. Menjadi manifestasi Tuhan dalam kehidupan nyata. Dia yang selalu dekat dengan hamba-Nya, Dia Yang Maha Rahmaan.. Maha Rahiim... yang kan selalu ada kapanpun di manapun kita berada.

Ya Allah... terima kasih... dengan ijinMu hamba bisa belajar makna mencintai dari sosok ibu saya. Betapa besar arti ketulusan dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Dan jadikan diri ini untuk terus sadar bahwa semua yang hamba telah dapatkan selama ini, semua tak pernah lepas dari cintaMu, dari kasihMu, dari kemurahanMu. Ampunkan hamba atas segala kekhilafan, hamba yang masih sering lupa bersyukur atas semua nikmat dan karuniaMu.....

Thursday, March 28, 2013

Mendengarkan dengan Hati


Pasti ada sebuah tujuan mengapa Tuhan memberikan dua telinga dan satu mulut saja dalam diri kita. Apa itu tujuannya? Yang jelas saya juga belum tahu pastinya apa. Kita yakini saja pasti tujuannya baik. Salah satunya barangkali agar kita bisa mendengar lebih banyak. Ya, mendengar yang tidak hanya mendengar tapi mendengar yang berkualitas.
(-)Wuih... bicara tentang mendengar yang berkualitas nih.
(+) Iya doong, kualitas yang bicara
(-) Bicara tentang apaaan
(+) Ini juga baru mau ditulis...
(-) ooh..hehehe....

Mendengarkan bagi sebagian orang mungkin hanya dianggap sebagai sesuatu yang biasa saja. Bagaimana bisa? iya, ya intinya ada orang bicara terus kita pasang deh kedua telinga kita untuk mendengarkan apapun yang disampaikan oleh yang bicara. Lho.. bagus kan? kok dianggap biasa. Iya, biasanya karena seringkali ngedengerinnya cuman asal dengerin. Tidak fokus, sambil mikirin atau bahkan mengerjakan aktivitas lain. Malah kadang saat yang bicara udah selesai, kita nya sendiri masih larut dalam lamunan kita sendiri.

Ada salah satu artikel menarik yang pernah saya baca. Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa ternyata salah satu cara bagi seorang wanita untuk mengurangi rasa tidak nyaman dalam dirinya adalah dengan berbicara alias curhat bin curcol. Menariknya, ternyata saat dia curhat ini, satu hal penting yang harus dilakukan oleh teman curhatnya adalah just listening. Iya, cukup mendengarkan saja dengan sepenuh hati, enough. 

Para pria kadang kurang pas dalam meresponnya. Saat si cewek lagi curhat, eeh..belum selesai curhatnya udah dipotong aja tuh. Sok-sokan kasih nasehat bijaksana. Padahal yang ngasih nasehat belum tentu paham bener duduk permasalahannya. Hehe... ga salah juga kok, cuman kurang tepat. Yang jelas ya berarti dia belum praktekin itu mendengarkan dengan hati.

(-) woii... terus apa itu mendengarkan dengan hati?
(+)huehehe... sabar lah jiii...ini baru mau dilanjutin...

Prinsip mendengarkan dengan hati adalah melibatkan rasa saat melakukannya. Pertama, sadar bahwa saat ada orang mau cerita sama kita, percaya buat cerita sesuatu sama kita, itu berarti kita lagi diberikan peluang untuk belajar banyak dari yang bersangkutan. Bisa jadi juga kita dipilihNya untuk menjadi perantaraNya untuk kasih solusi nih buat orang yang mau cerita sama kita. Jadi, sadar di sini adalah dengan ngelempengin niat kita dulu, bismillaah... semoga berkah dan manfaat. Kedua, setiap orang itu senang diperhatiin, direspek, dihormatin. Maka saat kita memperhatikan bener saat dia bicara, tentu yang bersangkutan bakalan seneng tuh (asal merhatiiinnya ngga sambil melotot aja yaa..hehe..). Nah, saat orang seneng, otomatis endorphinnya keluar kaan? otomatis ngurangin stressnya juga (kalau dia lagi stress, huehehe..) Ketiga, mendengarkan dengan hati adalah tidak melakukan kegiatan apapun selain mendengarkan dan memperhatikan setiap ucapan yang disampaikan oleh lawan bicara kita sampai dia sampai ke titik haus penghabisan. Maksudnya sampai kita akhirnya paham beneer apa itu yang dia bicarakan sehingga komen kita nantinya pas sesuai dengan apa yang dia perlukan.

Emang tahunya gimana dong? hehe... tanyakan saja di akhir ceritanya terus pengennya gimana sekarang, apa tepatnya yang kamu inginkan?. Nah, dari sanalah kita baru mulai bicara, memantik munculnya solusi atau minimal memberikan tanggapan yang pas dengan topik cerita yang bersangkutan. Eitt... yang menarik nih, terkadang kita belum ngomong apapun, si lawan bicara udah ngerasa lega. Lho kok bisa?? Iya, praktekin aja deh mendengarkan dengan hati....

(-) udahan ni bos ceritanya?
(+) udah Ji... ini dalam rangka istiqamah nulis wae atuh.. biar adaa terus..
(-) haha... ooke dah....sippphh..

Breaking The Habit


Tak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan terjadi setiap saat sehingga setiap saat perubahan itu harus diciptakan. Tak terkecuali terhadap diri kita sendiri. Ya, banyak orang yang mendengungkan perubahan secara massive, secara global, perubahan terhadap negeri, terhadap sebuah organnisasi yang besar. Namun melupakan satu hal penting yaitu memulai perubahan itu dari diri sendiri.

Bagaimana mungkin kita menggerakkan orang lain dengan cara yang sama dari waktu ke waktu? Apalagi jika cara yang dipakai sudah terbukti tidak berhasil membawa ke arah yang diinginkan. Bagaimana kita bisa kita bisa MOVE ON, jika pola, metode yang dipakai dari waktu ke waktu sama? So, memutus pola lama yang terbukti tidak efektif menjadi sebuah keharusan untuk terciptanya sebuah perubahan masa depan yang lebih baik.

Demikian pula dengan diri ini. Saya merasa ada banyak pola atau kebiasaan yang perlu segera saya ubah dengan segera. Pola-pola pengaturan waktu yang kurang baik. Pola istirahat yang tidak tertata dengan baik. Kebiasaan-kebiasaan lain yang bersumber dari bank "mindset" yang tidak mendukung, memang sudah seharusnya segera di "scan" dan kemudian me-replace-nya dengan program baru yang lebih efektif dan mendukung.

Tak ada kata terlambat untuk memulai sebuah kebaikan yang terencana dengan baik. Tak ada kata terlambat untuk merekonstruksi sebuah pola hidup baru yang bermanfaat untuk diri kita. Harus selalua  ada semangat untuk lebih mengeksplorasi potensi diri yang sampai saat ini masih terhambat dengan berbagai macam hal yang tidak mendukung. Harus selalu ada keyakinan bahwa diri ini diciptakan tidak hanya untuk mampir ngombe saja, melainkan ada tugas mulia yang telah diembankan olehNya kepada kita.

Jadi sudah cukupkah kita dengan semua capaian yang telah ada sampai saat ini? Berbicara tentang cukup atau tidak, syukur itu harus tetap ada. Sekecil apapun capaian kita dalam hidup, bagaimanapun itu juga harus dihargai. Tapi kalau kemudian sudah merasa cukup dan kemudian menyerah saja dengan keadaan yang ada, menurut saya itu yang tidak pas. Bersyukur, bersabar adalah kata produktif, bukan kata yang aplikasinya adalah pasif. Saya sendiri merasa jauh dari puas untuk semua capaian saya selama ini. Maksudnya adalah saya merasa belum memberikan yang terbaik dari semua yang telah Tuhan titipkan kepada saya. Saya merasa masih jauh dari syukur atas semua bekal terbaik yang Dia amanahkan kepada saya.

Apalagi jika bicara tentang kemanfaaatan? Aduuh.... malu rasanya diri saya. Dengan usia yang sudah mendekati kepala 3, lha kok ngerasanya belum bisa kasih manfaat yang banyak untuk diri dan lingkungan sekitar saya. Hmmh...padahal, mereka-mereka yang usianya di bawah saya, mungkin sudah bisa memberikan kemanfaaatan yang jauuh lebih banyak dari saya, wew... makin malu kaan? hehe...

But, okee lah... tak terlalu baik juga banyak membandingkan diri dengan orang lain. Lebih baik berfokus kepada apa the next contribution yang kita bisa hasilkan untuk menjalankan tugas muliaNya sebagai penebar kemanfaatan. Mari mengevaluasi diri untuk memulai perubahan dari dalam diri. Berani untuk memutus pola aktivitas yang tidak produktiff?? let's Breaking Our Unproductive Habit!!



Wednesday, March 27, 2013

Back To HOME


Sebagaimana seorang perantau yang rindu untuk mudik ke kampung halamannya. Sebagaimana seorang pasangan yang telah terpisah beberapa waktu kemudian rindu untuk kembali bertemu. Sebagaimana seorang anak yang selalu rindu akan pelukan hangat ibu dan ayahnya, sosok-sosok yang memancarkan ketulusan cinta dan kasih sayang. Sebagaimana seorang hamba yang rindu untuk kembali mendekat, merapat ke sang pencipta. Karena memang itulah hakikat kehidupan, diciptakan untuk mengenal siapa dirinya, melangkah kembali menuju tempat asalnya. Rindu untuk kembali ke "home"nya. Rindu untuk kembali ke fitrahnya sebagai manusia, sebagai seorang hamba. Dia yang memang asalnya adalah baik, sehingga setiap manusia pasti akan rindu pada kebaikan.

Lagu ini termasuk salah satu favorit saya... Michael Buble dengan HOME-nya

Another summer day
Has come and gone away
In Paris and Rome
But I wanna go home
Mmmmmmmm

May be surrounded by
A million people I
Still feel all alone
I just wanna go home
Oh, I miss you, you know

And I’ve been keeping all the letters that I wrote to you
Each one a line or two
“I’m fine baby, how are you?”
Well I would send them but I know that it’s just not enough
My words were cold and flat
And you deserve more than that

Another aeroplane
Another sunny place
I’m lucky, I know
But I wanna go home
Mmmm, I’ve got to go home

Let me go home
I’m just too far from where you are
I wanna come home

And I feel just like I’m living someone else’s life
It’s like I just stepped outside
When everything was going right
And I know just why you could not
Come along with me
’Cause this was not your dream
But you always believed in me

Another winter day has come
And gone away
In even Paris and Rome
And I wanna go home
Let me go home

And I’m surrounded by
A million people I
Still feel all alone
Oh, let me go home
Oh, I miss you, you know

Let me go home
I’ve had my run
Baby, I’m done
I gotta go home

Let me go home
It will all be all right
I’ll be home tonight
I’m coming back home

Sebagai penutup (semoga ada keterkaitannya) saya nukilkan sebuah cerita mengenai percakapan seorang profesor dengan mahasiswanya.


Dalam sebuah perkuliahan terjadi dialog antara seorang professor sebagai dosen dan mahasiswanya, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”  “Apakah kejahatan itu ada?” “Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?”
Seorang Professor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini.
“Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”
Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Beliau yang menciptakan semuanya”.
“Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya sang professor sekali lagi.
“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.
Professor itu menjawab,
“Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan?”
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut.
Professor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Professor, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Tentu saja,” jawab si Professor
Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Professor, apakah dingin itu ada?”
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Apakah kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.
Mahasiswa itu menjawab,
“Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”
Mahasiswa itu melanjutkan, “Professor, apakah gelap itu ada?”
Professor itu menjawab, “Tentu saja gelap itu ada.”
Mahasiswa itu menjawab,
“Sekali lagi anda salah, Pak.Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak.”
“Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna.”
“Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Professor, apakah kejahatan itu ada?”
Dengan bimbang professor itu menjawab,
“Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab,
“Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan.”
“Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

Merengkuh Kembali Cahaya


Wahai engkau yang sedang gelisah
Nikmatilah saja dengan penuh pasrah
Sapa saja dia dengan ramah
Dan jangan biarkan engkau melemah

Bangkitlah engkau wahai sahabatku
Engkau yang telah tercipta untuk mengabdi
Telusurilah jalanmu setapak demi setapak
Berbagilah waktu dengan alam
Demi menemukan jawaban
Hakikat manusia

Teruslah melangkah wahai sahabatku
Wujudkan dan capai asamu
Leburkanlah semua batas yang ada
Antara Kau, Aku dan Kita

Duhai sahabatku yang lembut hatinya
Maka lepaskanlah saja semua rasa yang ada di hatimu
Rasa cinta
Rasa rindu
Ijinkan agar itu hanya antara engkau dan diriku
Menyatu dalam keabadian

*inspired from Ari Lasso - Aku dan Dirimu and Gie - Eross &Okta

Tuesday, March 26, 2013

Completely


Entah kenapa, tiba-tiba saja ingin memposting lirik lagu berikut ini. Menurut saya, lagu ini keren sekali. Ah, semoga suatu saat nanti diizinkan untuk membahasnya lebih dalam. Sekarang sekedar saya postingkan saja liriknya. Lagunya Ana Laura, judulnya completely, salah satu soundtrack film favorit saya, Facing The Giants. Monggo...

The secret of life is letting go
The secret of love is letting it show
In all that I do, in all that I say
Right here in this moment

The power of prayer
Is in the humble cry
The power of change
Is in giving my life
And laying down
Down at your feet
Right here in this moment

Take my heart, take my soul
I surrender everything to your control
And let all that is within lift up to you and say
I am yours and yours alone, completely

This journey of life, is a search for truth
This journey of faith, is following you
Every step of the way, through the joy and the pain
Right here in this moment
Take my heart, take my soul
I surrender everything to your control
And let all that is within lift up to you and say
I am yours and yours alone, completely

Right Here, Right Now
And for the rest of my life
Hear me say . . .

Take my heart, take my soul
I surrender everything to your control
And let all that is within lift up to you and say
I am yours and yours alone, completely
I am yours and yours alone, completely

Haruskah Sama?


"Lho siapa yang bilang harus sama" kata Pardi. "Iya, Di... aku juga tidak meng"harus"kan sama, hanya mempertanyakan saja kok" jawab Parjo.

"Lha yo jelas tidak to ya Jo...Jo... Misalnya nih, namaku Pardi, namamu bukan Pardi. Lak wis bedo to iku?" Pardi memperjelas. "Iya Di, paham aku nek kuwi. Hanya aku ingin menanyakan tentang virus 'keumumuan' alias 'kenormalan' yang sering orang bicarakan itu" tanggap Parjo.

"Hahaha... owalaaah, itu to Jo yang menjadi sumber kegelisahanmu. Yaa... paham aku. Gini Jo, menurutku itu hanyalah tentang persepsi saja kok. Persepsi yang terbentuk karena dari dulu semenjak kita kecil kita dibiasakan untuk 'sama'. Seragam sama, topi sama, sepatu harus hitam, jadi Guru, Insinyur, Presiden, Masinis, Dokter, pegawai.... yaa... yang semacam itu laah" papar Pardi.

"Hmm... gitu ya Di, trus apa yang harus aku lakukan Di?"tanya Parjo.

"Ya... kamu ga perlu ngapa-ngapain Jo, menengo wae, dilakoni wae, mengko lak dirimu tahu sendiri. Semua akan LUCU pada waktunya" jawab Pardi sekenanya.

"Wooo... piye to Di, ditanyain serius kok jawabnya malah Guyon" protes Parjo tak mau kalah.

"Lha.. piye to, aku serius ki Jo, seperti halnya kamu nek jawab pertanyaanku. Selagi memang kamu tak digerakkan untuk keluar 'jalur' yang sudah kamu pilih sekarang ini. Menurutku kamu 'save'. Maka pesenku yo menengo wae, ora sah kakehan tekon, sik ada dijalani sebaik-baiknya. Ditekuni sik tenanan, nek pancen kui dalan You, ya you akan 'terbimbing' terus ke sana" terang Pardi.

"Oh...ngono yoo, terus..teruss... kok mundhak pinter kowe saiki Di" sahut Parjo antusias.

"Terus..terus... yo kui mau, nek misale ini pun bukan jalanmu, engkau pun akan 'terbimbing' dari HAL TERBAIK yang telah engkau lakukan itu. Gusti Alloh kui perlu media untuk 'bekerja' dalam dirimu Jo. Piye kui? Yo lakonono sik tenanan, ga entuk males kowe. Buktikan kalau kamu punya iman, buktikan kalau kowe pantes jadi hambaNya sik mulia" papar Pardi panjang lebar.

"Jadi kuncine neng aku dhewe ki Di?"Parjo menegaskan

"Neng ndi maneh broo, dirimu sendiri yang punya kendali itu. Kaulah nakhoda-nya, kau bebas menentukan ke mana arah kapalmu akan kau labuhkan. Kau harus terus menjalankannya. Kapalmu harus terus bergerak dan pada saatnya ijinkan 'angin' membantu mengarahkan perahumu. Yakinlah, semua akan LUCU pada waktunya" tutup Pardi.

"Hmm... baiklah bro... terima kasih atas diskusi yang mencerahkan ini" jawab Parjo sambil tersenyum puas.

Menyapa Kembali Sang Bulan


Wahai bulanku...
Izinkan aku bertanya padamu
Tentang resah hati
Tentang gejolak yang kembali menyeruak
Dari dalam diri

Wahai bulanku..
Dapatkah kau menjawabnya
Siapa sebenarnya diri ini
Mengapa aku harus hadir di dunia ini
Mengapa aku harus menjalani semua ini

Wahai bulanku..
Mungkin kau akan kembali tersenyum ya
Kembali menerima pertanyaan yang berulang kali kutanyakan
Seolah ingin memberikan isyarat
Untuk tak perlu menjawab
Karena kau tahu
Aku sudah tahu jawabannya

Wahai bulanku..
Maafkan aku jika kembali bertanya
Mengulang lagi...menanyakan lagi..
Sesuatu yang seharusnya memang kutemukan sendiri
Jawabannya yang memang telah ada dan melekat dalam diri

Wahai Bulanku...
Aku hanya ingin berbagi saja
Dan menyapamu kembali
Terima kasih untuk selalu terang
Terima kasih untuk selalu sejuk
Membimbing sang diri

Monday, March 25, 2013

Semua Akan Lucu Pada Waktunya


Hidup itu ibarat sebuah lingkaran, bermula dari sebuah titik dan akan kembali ke titik semula. Semua yang mengirirngi kita dalam perjalanan hidup adalah sesuatu yang telah digariskan olehnya. Setiap hal pasti punya makna. Setiap hal yang kita alami dalam hidup ini akan menjadi cerita yang kelak kemudian hari baru akan kita pahami apa maksudnya. Ya... semua akan menjadi lucu pada waktunya.

Menarik yaa... lho kok ngambil judulnya bukan semua akan indah pada waktunya. Hehe... karena menurut saya itu sudah biasa. Orang sudah terbiasa mendengar, melihat atau merasakan apa itu indah. Sesuatu yang menurut saya sangat abstrak sekali. Sedangkan lucu, menurut saya mempunyai asosiasi yang jauh lebih konkret. Lucu identik dengan ceria, bahagia, senang, tertawa. Maka saya pribadi menjadikannya ini semacam pemicu atau anchor bagi diri saya sendiri. Saya meyakini bahwa setiap hal yang kita alami dalam hidup ini mengandung sebuah makna. Selanjutnya, saya juga sangat meyakini bahwa semua akan lucu pada waktunya.

Oke... mari kita lihat sejenak perjalanan hidup kita beberapa masa yang lalu. Ambil saja satu contoh kejadian masa kecil kita yang bagi kita saat itu terasa menyedihkan. Sudah? Sekarang ingat-ingat kembali kejadian itu menggunakan sudut pandang usia Anda saat ini. Jika kenangan itu tidak ada unsur traumatik, maka saat anda menceritakan kembali kejadian ini, pasti bisa sambil tersenyum atau bahkan tertawa. Ya, kan? Terbukti bahwa semua akan lucu pada waktunya.

Sederhana sekali yaa? Dan menariknya, manusia memiliki sumber daya yang begitu luar biasa untuk bisa menjadikan sesuatu yang kita alami dengan segera menjadi "lucu" pada waktunya.Ya, semuanya adalah kembali kepada seberapa bersedia kita untuk mau menerima kejadian itu dengan ikhlas. Kemudian merenungkan sejenak, lalu melihat dengan sudut pandang yang jauh lebih memberdayakan. Maka, segeralah terwujud "semua akan lucu pada waktunya", hehehe....

Yah... sampai saat ini pun saya juga masih memiliki beberapa puzzle of life yang sedang mengantri untuk masuk dalam kategori semua akan lucu pada waktunya. Menjadi PR saya untuk segera memasukkan antrian tersebut ke Folder semua akan lucu pada waktunya. Sekarang waktunya untuk kembali bergerak di jalur yang semestinya.... seperti lagu Queen yang berjudul The Show Must Go ON!!

Monday, March 11, 2013

Melodies of Life


Ibarat nada, ada berbagai macam irama bisa dihasilkan dari kombinasi antar nada. Menjadi irama yang indah adanya karena materi penyusunnya tak hanya satu nada, melainkan berbagai macam nada.
Hidup yang sedang dijalani pun seperti itu adanya. Ada 'nada' bahagia, semangat, ada 'nada' sedih, khawatir, ceria, tenteram, tenang, damai. Masih ada pula 'nada' kebaikan, 'nada' kebohongan, kejujuran, keserakahan dan masih banyak lahi..

Ya, semuanya adalah materi-materi yang merupakan penyusun dari sesuatu yang disebut dengan kehidupan ini. Seperti halnya irama, maka banyaknya variasi penyusunnyalah yang sejatinya menjadikan hidup ini menjadi begitu indah untuk dilihat, didengarkan maupun dirasakan.

Jika ada irama-irama yang kurang pas, bagi seoranng komposer lagu tentu mudah saja untuk mengenalinya. Telinganya akan sensitif begitu mendengar ada nada yang kurang harmoni. Lalu apa yang dilakukannya? Tentu mengganti nada penyusun irama tersebut dengan nada yang lebih pas bukan?

Dalam hidup, kitalah "komposernya". Saat menjumpai sebuah kondisi yang tidak pas, itu artinya perlu penyesuaian lagi terhadap 'nada-nada' yang menjadi penyusunnya. Perlu sejenak berhenti, untuk mendengarkan lebih khusyuk, apa 'nada' yang perlu disesuaikan, sehingga irama hidup akan menjadi harmoni dan berujung pada keindahan.
Enjoy Our Life :)

Friday, March 1, 2013

Kepolosan, Keceriaan dan Kebahagiaan


Mengawali pagi ini dengan aktivitas-aktivitas baru. Melakukan perubahan dari rutinitas yang biasanya dilakukan, ternyata memang menyenangkan. Aktivitas menulis pun  ke depan sepertinya akan menjadi sebuah rutinitas yang menyenangkan.

Oke, mari kita awali aktivitas kita hari ini dengan bersyukur dan menyebut namaNya. Agar selalu terjaga dan dimudahkan segala urusan kita di dunia ini.

Membahas tentang anak-anak, selalu tak ada habisnya. Ada hal-hal menarik yang bisa membuat saya tertawa gembira melihat polah mereka. Seperti yang terjadi saat saya outbond bersama adek-adek TPA di daerah gunung bunder hutan wanagama. Ceritanya saat itu sedang ada permainan lempar tangkap bola. Siapa yang mendapat bola harus menyebut nama, umur dan kelas berapa sekarang. Setelah beberapa putaran, tiba-tiba ada seorang adek kecil yang keluar dari barisan,menangis dan mendekati ibunya.

Saya pun langsung mendekati anak tersebut yang akhirnya minta pangku ibunya. Sambil dia duduk di pangkuan ibunya, saya coba alihkan perhatiannya untuk melihat ke atas pohon. Saya bilang saat itu “Eh, adek… itu kok ada ijo-ijo di pohon itu apa ya? “ teriak saya sambil menujuk –nunjuk ke atas pohon di dekatnya. Adek itu akhirnya mendongak ke atas, mencari sesuatu (padahal yang saya maksud ijo-ijo ya batang pohon itu, hahaha…). Dan berhasil, menangisnya berhenti. Begitu berhenti langsung deh saya ajakin gabung temen-temennya lagi. Sambil saya tanya “Ada apa, adek kok tidak ikut main lagi?”. Adeknya tidak langsung menjawab, melainkan bertanya kepada ibunya “Ibu nanti aku kalau ditanya umurnya jawab berapa?”. Sontak saya tertawa mendengar pertanyaan adek kecil ini. Apalagi begitu mendengar jawaban ibunya “4 tahun”, adek kecil ini langsung mau saya ajak gabung lagi di permainan.

Ah… mereka begitu polos. Tapi justru kepolosan itulah yang memunculkan kebahagiaan di orang-orang sekitarnya.Secepat itu mereka sedih, secepat itu juga mereka bisa bahagia.

Pengalaman kedua, saat rabu kemarin saya silaturrahmi ke rumah mentor saya. Saat saya selesai sholat Maghrib di masjid tak jauh dari rumah mentor saya ini. Ada beberapa adek kecil yang menjadi jamaah sholat maghrib saat itu. Saat itu, begitu imam selesai salam, tak  berapa lama terdengar suara dari belakang saya, “Mak, aku udah selesai baca doa untuk orang tua, jadi boleh lepas rukuhnya kan ?(rukuh = mukena)” tanya adek kecil itu. Ibunya pun menjawab ‘boleh’ dan adek kecil itu segera melepas mukenanya. Namun ternyata belum selesai, masih sempat dia menyapa teman yang disampingnya “Kamu sudah baca doa untuk orang tua 
belum, kalau belum, rukuhnya belum boleh dilepas”katanya menasehati teman yang ada disampingnya.

Pengen rasanya tersenyum lebar mendengar percakapan-percakapan itu. Jujur bener-bener belajar banyak dari ucapan-ucapan mereka. Ucapan penuh kepolosan, tulus, tanpa pamrih. Menjadikan siapapun yang mendengarnya merasa senang dan bahagia.

Yup, sekian dulu deh ceritanya… mari terus belajar sahabat J