Tuesday, August 27, 2013

Ojo Nggresulo

Criyosipun makaten, dados kala wingi sonten kula kepanggih kaliyan rencang-rencang dhek jaman kuliyah rumiyin wonten Akuntansi UGM. Sampun dipun wartaaken sakderengipun bilih panggenan kagem makempal menika dipun sepakati wonten ing warung Raminten. Raminten punika salah satunggaling papan kagem makempal ugi dhahar sakcekapipun. Kathah menu wonten ing mrika kanthi regi ingkang terjangkau.

Antawis jam 5 sonten kula dumugi mrika. Rencang-rencang ugi sampun kathah ingkang dumugi sakderengipun kula. Nah, gandheng meh sedaya sampun pesen, kula ugi ndherek mesen dhaharan saha unjukan ingkang sampun dipun cetak wonten ing daftar menu. Sak sampunipun kula milih menu, lajeng kula nyebataken setunggal mboko setunggal. Total wonten tiga warni ingkang kula pesen. Mboten nggateaken menapa ingkang kula pesen sampun dipun tulis punapa dereng dening mbak-mbak ingkang nglayani. Namung pitados kemawon bilih pesenan kula mesthinipun nggih sampun dipun cathet.

Sakbibaripun mbak-mbak pelanipun mungkur, kula nglajengaken anggenipun wicantenan kaliyan rencang-rencang kuliyah kula rumiyin. Pancene dangu mboten kepanggih. Sanajan rencang-rencang ingkang rawuh menika mapanipun ugi wonten Ngayogyakarta. Wonten ingkang dados auditor internal, wonten ingkang dados PNS, wonten ingkang dados pengusaha, wonten ingkang dados praktisi keuangan rumah sakit, wonten ingkang dados trainer lan sakpanunggalipun. Inggih estu panci kedhah dipun syukuri. Taksih saged makempal nglajengaken silaturrahim.

Sampun meh 30 menit sakbibaripun pesen menu. Lha niki kok menune dereng dumugi wonten ing panggenan anggenipun kita makempal sesarengan. Ngantos wonten kalih rencang ingkang nyuwun ijin pamit amargi gadhah lare alit wonten ing griyanipun. Dipun tenggo 15 menit, nembe medal setunggal. Lan wusananipun? Hehehe... mboten siyos dhahar menopo-menopo. Awit ngantos bibar, menunipun dereng dumugi meja. Mbak-mbak pelayan ingkang dipun konfirmasi ngendikanipun mboten wonten pesanan kados ingkang kula pesen wonten ing seratanipun.

Weleh.... kok nggih saged makaten. Namung nggih pripun malih. Sadaya sampun kalampahan. Ingkang baken, silaturrahim sampun kaleksanan kanthi sae. Pancinipun mboten sedaya ingkang kita pingini wonten ing dunya menika saged kaleksanan kados ingkang sampun kita rencananaaken. Ingkang kedhah dipun sadari inggih menika sedaya menika sampun wonten ingkang ngatur. Kita sedaya namung manungso, hambanipun Gusti Allah ta'ala. Kita kedhah pitados bilih sedaya sampun tinulis dening Gusti Allah lan menapa kemawon ingkang sampun kaleksanan, insya Allah ngemu manfaat dumateng kita sedaya. Kuncinipun mapan wonten ing manahipun piyambak-piyambak. Supados saged syukur ugi sabar. 

Kejawi menika, kita sedaya ugi kedhah langkung mawas diri. Mbok menawi wonten ing salah satunggaling wekdal, kita nate nindaaken aktivitas ingkang kadosipun nelasaken kathah wekdal, namung mboten wonten manfaatipun, kosong melompong. Monggo sami koreksi diri wonten awakipun piyambak-piyambak. Supados urip kita wonten ing dunya menika saged langkung manfaat tumraping liyan. Urip iku urup. Sak sae-saenipun tiyang menika ingkang saged migunani langkung kathah. Kagem awakipun piyambak, langkung-langkung kagem sedherek-sedherek ugi lingkunganipun.

"Urip kui lakono kanthi temen, ojo nggresulo, nek wis usaha yo dipasrahna" makaten ngendikanipun salah satunggaling guru ingkang sampun kasohor wicaksananipun. Mugi sedaya ingkang tinulis wonten ing mriki saged bermanfaat. nuwun.

*Salaman*

Sunday, August 25, 2013

Prameks Al Hikmah :D

Artikel ini sebenarnya mau sekalian di tulis saat sedang di Kereta, tapi ternyata udah mepet (maksudnya keretanya udah mau sampai Stasiun Balapan) jadi baru nulis idenya dulu. Lalu sekaranglah diwujudkan dalam bentuk tulisan...

Saya merenung sebentar... selain mendapatkan pelajaran bahwa dalam hidup kita membutuhkan orang lain. Ada beberapa hal lain yang muncul dari perjalanan bersama kereta api ini.

Pertama tentu saja, memerlukan tujuan yang jelas. Akan kemana hidup kita ini kita bawa. Pertanyaan-pertanyaan tentang siapa diri kita, dari mana kita berasal, mengapa kita diciptakan, ke mana kita akan pergi,  adalah pertanyaan-pertanyaan dasar yang akan menjawab ke mana sebenarnya tujuan hidup kita ini. Maka kalau dalam konteks kereta api, tujuan saya adalah menuju Solo. Dalam konteks kehidupan, maka tujuan saya adalah dalam rangka mendapatkan ridhoNya, untuk beribadah kepadaNya.

Kedua, untuk menuju Solo, maka kita harus tahu "peta"nya. Harus memahami alur tentang kereta. Kereta mana yang harus di pilih, jam berapa saja ada keretanya, jam berapa saya bisa membeli tiket. Sederhananya kita membutuhkan semacam "buku panduan" untuk memudahkan perjalanan kita. Hidup pun demikian, kita memerlukan "panduan" untuk hidup. Secara fisik, jelas sudah disebutkan (bagi yang muslim) adalah Al Quran dan hadits. Pengembangannya, adalah dari petunjuk-petunjukNya yang terbaca dari sekian banyak hal yang kita alami dalam hidup ini.

Ketiga, untuk sampai ke Balapan, saya perlu beli tiket, untuk mendapatkan tiket, saya perlu mengeluarkan uang. Perlu modal juga untuk sampai ke Solo. Pun demikian juga kan untuk sampai ke tujuan kita. Untuk menuju ridhoNya, menuju SurgaNya, kita perlu "modal". Untuk mendapatkan "tiket" dariNya, kita perlu mengeluarkan "biaya". Apa bentuk "biaya"nya? Bentuknya ya baik yang berupa bentuk fisik maupun non fisik. Bentuk fisik ya seperti menggunakan anugerahNya berupa tubuh ini untuk kebaikan, menyedekahkan rizki yang diterima, meminjamkan motor atau mobil yang kita miliki untuk keperluan tetangga, dll. Yang non fisik adalah misalnya meluruskan niat kita agar ingat untuk meakukan hal apapun hanya karenaNya, dll.

Keempat, ada kalanya jadwal yang sudah tertera di tiket tidak selalu sama. Terkadang keretanya datang terlambat. Bahkan jauh melebihi jadwal yang sudah ditentukan. Seperti yang saya alami, di jadwal tertulis jam 20.10, eh keretanya baru datang jam 20.45. Belum lagi berhenti lama di bandara adisucipto (Maguwo). Akhirnya baru sampai Solo sekitar jam 22.00. Widiih... jauh banget kan? Terus? perlu marah-marah? Itu tidak akan menyelesaikan masalah. Maka kuncinya adalah syukur dan sabar. Bukankah syukur dan sabar ini juga sangat kita perlukan dalam hidup? Dengan menyadari bahwa tidak ada satupun hal di dunia ini yang terjadi secara kebetulan.

Well... selalu ada hikmah yaa... tinggal bagaimana kita melihatnya :)

Sugeng enjaang
*Salaman*

Thursday, August 22, 2013

Karena Kita Saling Melengkapi

Saat perjalanan ke Solo naik kereta api Prameks....


Untuk memasuki stasiun, penumpang harus membeli tiket. Untuk membeli tiket harus mengeluarkan resources berupa money. Untuk mendapatkan tiket harus mengantri dan minta bantuan mbak atau mas yang bertugas untuk memberikan pelayanan. Apabila kita membawa kendaraan baik motor atau mobil, harus minta tolong kepada para petugas parkir untuk menjaga kendaraan yang dibawanya. Saat sudah masuk ke stasiun, masih memerlukan bantuan dari bapak petugas stasiun untuk menanyakan di jalur mana kereta yang akan dinaiki. 

Saat sudah sampai di dalam, sambil duduk menunggu kereta, memerlukan bantuan para penjaja koran atau makanan untuk sekedar mengganjal perut. Saat sudah berada di dalam kereta api, masih meminta informasi kepada penumpang lain di samping kiri atau kanannnya, menanyakan sudah sampai atau belum. Daan... nanti barangkali saat sudah sampai di stasiun, masih akan minta bantuan informasi taksi, penginapan, toilet, musholla, dll.

Akh.. itu baru sebagian kecil dari sekian banyak hal dimana kita membutuhkan bantuan orang lain. Belum lagi urusan di luar kereta api. Saya pikir masih banyak hal yang kita akan memerlukan keberadaan orang lain di dalamnya. 

Karena kita diciptakan memang tidak sendiri. Adanya orang lain adalah untuk saling melengkapi satu sama lain. Adanya beragam profesi adalah untuk saling melengkapi. Adanya pria wanita adalah untuk saling melengkapi. Adanya suami istri adalah untuk saling melengkapi. 

Adanya "orang jahat", adalah agar terlihat mana yang disebut sebagai "orang baik". Adanya koruptor, adalah agar menjadi tampak mana yang disebut orang jujur. Adanya "orang miskin", adalah agar ada yang mendapat gelar sebagai "orang kaya". Maka, alih-alih menyalahkan, menghujat keadaan "buruk" apapun yang ada pada orang lain, alangkah baiknya kita berfokus untuk terus mengevaluasi diri kita sendiri.

Karena keberadaan kita adalah dalam rangka dijadikan media olehNya agar orang lain bisa menebarkan manfaat. Karena keberadaan orang lain adalah media yang diberikanNya agar kita juga bisa menjadi khairunnas anfauhum linnas. Mari saling menghormati... mari saling menyayangi... karena kita akan selalu saling melengkapi.

Sunday, August 18, 2013

Kemerdekaan Itu....

Kemarin saat tanggal 17 Agustus, iseng-iseng saya masang bendera Belanda alias kompeni di display picture HP saya. Hasil iseng-iseng ini rupanya mengundang banyak komen dari teman-teman saya. Ada yang bilang "Lho.. kok benderanya ada tambahan warna birunya mas?". Ada lagi yang bilang "Wah mas bayu kok cinta Kompeni?". Ada juga yang bilang , "Wah kamu itu aneh-aneh aja mas". Dan masih banyak lagi komentar-komentar yang muncul.

Dasar iseng, saya pun membalas komentar-komentar mereka seperti ini. Lho... yang menggerakkan Belanda ke Indonesia itu kan Gusti Alloh to? Jadi jangan-jangan mereka ini adalah utusanNya untuk menjadikan rakyat Indonesia bersatu padu dan akhirnya memperoleh kedaulatan sebagai sebuah bangsa yang MERDEKA?"

Eh... begitu baca jawaban saya ini, mereka yang tadinya komen menjawab begini "Wah..bener juga ya mas, hehehe...". Padahal saya baru nemu jawaban itu ya setelah masang foto profil bendera Belanda ini. Tadinya bener-bener cuma pengen iseng saja. Walaupun nek dipikir-pikir yo memang benar adanya..hehe... kebetulan yang jadi kebenaran.

Oke, itu hanya pengantar saja. Selanjutnya, saya hanya ingin merenungi mengenai makna kemerdekaan bangsa Indonesia ini. Ada salah satu guru saya yang pernah berkata seperti ini "Mas, kemerdekaan itu adalah AnugerahNya. Barangkali karena jaman dulu itu masih banyak yang sekarang kita sebut sebagai PAHLAWAN. Pahlawan ini siapa? Pahlawan adalah mereka yang rela mengorbankan dirinya untuk kepentingan orang banyak, untuk kepentingan bangsa dan negara ini. Maka layaklah mereka disebut pahlawan. Bahkan mati pun mereka jalani, mereka siap korbankan apa saja, demi satu tujuan mulia, Kemerdekaan bangsa."

Beliau masih melanjutkan, " Oleh karena ada begitu banyak PAHLAWAN inilah, maka dianugerahkanlah KEMERDEKAAN kepada bangsa Indonesia ini. Lalu bagaimana dengan kondisi Indonesia yang sepertinya semakin lama justru semakin tidak karuan? Ya mari kita tengok saja, bukankah untuk saat ini yang ada adalah mereka-mereka yang jauh lebih peduli hanya kepada dirinya sendiri? Mereka yang sibuk mencaplok harta ke sana kemari. Mengorbankan harga dirinya, hanya untuk memenuhi perutnya sendiri? Maka menjadi sebuah hal yang wajar saat akhirnya negara Indonesia ini bukan menajdi semakin baik, namun sebaliknya."

Ah, sebuah perkataan yang sangat menohok memang. Maka menjadi tugas kita sebagai generasi penerus bangsa. Untuk melanjutkan perjuangan para pahlawan yang telah bersatu padu melepaskan bangsa Indonesia ini dari penjajahan. Kalau kita sudah dibekali ilmu, maka sudah bermanfaatkah ilmu kita? Atau kita masih sibuk dengan diri kita sendiri? Ini bukan tentang mampu atau tidak mampu untuk melakukan. Melainkan mau tidak untuk melakukan. Sedikit kepedulian kita kepada sesama akan menimbulkan efek yang sangat besar bagi kemajuan bangsa Indonesia ini.

Jadi mari syukuri anugerah kemerdekaan ini dengan terus berbenah. Menjadikan diri kita menjadi semakin pantas untuk menebarkan semakin banyak manfaat di sekeliling kita. 

*Salaman*

Nek Nganggur Ojo Meneng, Nek Meneng Ojo Nganggur

Menungso iku akeh godane. Yo wajar sakjane, amarga manungso iku diparingi dening Gusti Alloh ati lan akal. Dadi yo pancen iso molak-malik alias ora ajeg. Nha nek wis ngerti koyo ngono kui,, kudune sik jenenge menungso iku yo kudu iso ngjogo awake dhewe. Piye ben ora gampang kena girigodha soko njobo.

Lha gegandhengan karo bab iki. Ana salah sawijining Guru sik ngendika koyo dene judul sik tak gawe ono ing artikel iki "Nek Nganggur Ojo Meneng, Nek Meneng Ojo Nganggur, ". Maksude piye ngono iku? Yo sabar sedhilit, tak jelasne bar iki.

Ngene co konco...
Dadi nek pas awake dhewe iku lagi nganggur ora ono gaweyan opo maneh dhewekan, pancene apike ora mung ngelamun thok. Amarga ngono iku cedhak karo godhane syaiton (yo arepo setan kui yo salah sijine soko unsur menungso). Terus apike piye neng pas dhewekan opo pas nganggur? Apike karo nglakoni perkara sing apik. Koyo to tafakkur, dzikir, opo perkara sik liyane. Pokoke piye carane ben atine iku iso temata. Syukur-syukur temataning ati kui nyedhaki maring Gusti Alloh.

Lha nek ternyata wis meneng kok tetep urung iso mengkondisikan awake dhewe opo roso neng jroning ati ben temata, yo ojo diteruske le meneng. Apike metu ketemu konco-konco sik kiro-kiro iso menehi semacam pencerahan. Dadi metu soko omah, utawa ngundang konco-konco sing apik. Ojo nganti ngundang konco-konco sing malah iso njlomprongake awake dhewe.

Yo pancen rada angel tafsirane, le nafsirke kudu tenanan. Mugo-muga wae tulisan iki iso dingerteni kanthi apik. Dene kok tetep durung iso, berarti yo sik nulis iki kudu sinau maneh babagan nulis artikel nganggo boso jawa. Pancene yo ora gampang cah, opo maneh nganggo boso kromo inggil. Lha dalah, iso ga rampung-rampung iku dadine.

Kayane cukup semene dhisik le nggonku nulis artikel, mugo-mugo sesuk-sesuk iso nulis artikel boso jowo kang luwih temata lan luwih gampang dingerteni.

Salam Boso Jowo!!

*Salaman*

Sunday, August 11, 2013

Belajar dari Seorang Wanita

Setiap orang adalah guru bagi kita. Lho kok bisa? Seperti yang pernah saya bahas sebelumnya. Guru berasal dari bahasa sansekerta Gu artinya gelap, Ru artinya mencerahkan. Siapapun yang kita temui dalam hidup ini, baik dia yang mengajarkan kebaikan maupun dia yang membuat kita tidak nyaman, semuanya adalah guru. Kuncinya tentu saja kembali ke diri kita, bagaimana kita memframe atau memaknai ulang terhadap siapapun atau apapun yang datang kepada kita.

Oke, sesuai dengan judulnya, melalui tulisan ini, bagi Anda yang merasa berjenis kelamin laki-laki, mari kita belajar dari sosok seorang wanita. Biasanya yang namanya laki-laki itu tidak mau kalah dari makhluk yang bernama wanita (hehe... tidak semuanya, hanya biasanya). Bahkan ada beberapa yang menganggap bahwa wanita adalah makhluk yang lemah dan masih banyak lagi persepsi tidak mendukung dari seorang pria terhadap seorang wanita.

Padahal, di dunia ini, semua diciptakan untuk saling melengkapi, saling menguatkan satu dengan yang lain. Begitu juga antara laki-laki dan perempuan. Mereka diciptakan Tuhan untuk saling melengkapi satu dengan yang lain.Namanya saja melengkapi, artinya tidak akan mungkin sama persis. Melengkapi itu artinya masing-masing memiliki kondisi spesifik masing-masing yang bisa jadi akan sangat berbeda. Maka memahami adanya perbedaan ini adalah dasar untuk sebuah keharmonisan sebuah hubungan (cieeeeh..hahahaa..)

Baiklah, mari kita lanjutkan. Lalu apa kali ini yang akan kita pelajari dari sosok wanita yang mulia ini? Begini, ada sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa tingkat stress yang dimiliki oleh seorang wanita lebih besar dari pada yang dimiliki oleh para pria. Namun menariknya, populasi yang mengkonsumsi alkohol 2/3 nya adalah pria. Hal menarik selanjutnya, 80% yang menggunakan narkotika juga pria. Satu lagi, 90% yang menghuni lembaga pemasyarakatan adalah pria.

Lho.. padahal logikanya harusnya sebaliknya dong. Kan tingkat stressnya lebih tinggi wanita dibandingkan pria? Kok fakta di lapangan justru berbeda dengan logikanya? Baiklah, mari kita lihat apa sih yang biasanya dilakukan seorang wanita saat dia sedang berada dalam sebuah masalah?

#Berbagi alias curcol alias curhat
Saat seorang wanita sedang memiliki masalah, biasanya cenderung dia akan cerita kepada seseorang yang dia percaya bisa menjadi tempat curahan hatinya. Nah, dalam hal curhat ini, ada sebuah fakta menarik yang kebanyakan para pria tidak memahaminya. Ketidakpahaman yang membuat para pria kurang sabar menanggapi curhatan para wanita. Dari yang memotong pembicaraan, sok menasehati dan lain-lain.

Padahal satu hal yang penting yang dibutuhkan seorang wanita saat dia curcol hanyalah DIDENGARKAN dengan sepenuh hati. Bahkan seringkali, yang terjadi adalah mereka tidak selalu membutuhkan solusi konkrit dari kita. Didengarkan saja, itu sudah sangat membantu meringankan beban mereka. Jadi dalam keadaan stress, wanita akan berkata tanpa berpikir, sementara pria akan berbuat tanpa berpikir. Itulah yang menyebabkan kondisi 90% yang masuk penjara adalah laki-laki, sedangkan yang datang ke psikolog 90% adalah wanita.

#Menangis
Bagi sebagian besar kaum pria, menangis adalah sebuah hal yang tabu. Seolah-olah muncul anggapan bahwa menangis hanyalah untuk kaum wanita saja. Padahal menangis adalah salah satu cara efektif untuk mengurangi stress. Mereka yang mengekspresikan emosi dengan menangis dan air mata, secara emosional akan lebih sehat. Secara kesehatan, air mata juga berdampak baik, ada beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa air mata bisa membantu mengeluarkan racun yang disebabkan oleh kesedihan. Jadi, kalau memang pengen nangis, ya nangis aja, engga perlu jaim..hehehe...

#Berpelukan
Berpelukan juga merupakan salah satu hal yang jarang dilakukan oleh pria. Padahal berpelukan ini adalah salah satu obat termurah untuk meredakan stress selain tertawa. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa berpelukan bisa membantu memunculkan hormon oxytocin (hormon yang berhubungan dengan perasaan cinta dan kedamaian). Selain itu, berpelukan juga membantu untuk menekan hormon cortisol dan noreprinephrine (hormon pemicu stress).

Kalau kita amati, semakin dewasa usia kita, semakin jarang jumlah pelukan yang dilakukan. Bayi adalah masa terbanyak kita mendapatkan pelukan dari orang-orang di sekitar kita. Setelah dewasa, bahkan saat bertatap muka pun tidak selalu ada cium pipi atau jabat tangan yang memungkinkan interaksi kulit dengan kulit. Seperti kita ketahui kulit adalah bagian tubuh terbesar, yang dibawahnya terdapat banyak kelenjar, dimana kelenjar-kelenjar aktif itu akan mengeluarkan hormon kekebalan saat disentuh.

Seorang terapis keluarga yang terkenal, Virginia Satir, menyebutkan, " untuk bertahan hidup, kita perlu empat pelukan sehari, untuk kesehatan, kita perlu delapan pelukan sehari. Untuk pertumbuhan, awet muda, dan kebahagiaan, kita perlu dua belas pelukan setiap hari.

Anyway, bisa jadi diantara kaum pria ada yang mengatakan, "lho.. kan kita cowok, ada perbedaan hormonal , kulit cowok pun ga se-reaktif kulit cewek, dll". Yup, bener banget, tapiii... semua bisa kita pelajari kok. Kembali ke diri kita sendiri. Semoga bermanfaat... :)

*Salaman*

Saturday, August 10, 2013

Saat Pisang Goreng dan Sambal Terasi Berpadu

Haloo sahabat semua...
Jumpa lagi dengan saya Chef Bayu, kali ini kita akan membahas salah satu menu baru yang patut Anda coba. Oke, langsung saja ya. Pertama siapkan pisang kepok (di tempat saya istilahnya itu) hehe.... Ingat untuk buka kulitnya ya, soalnya kalau nanti digoreng sama kulitnya sudah pasti ngga enak. Kemudian siapkan tepung yang sudah ditambahkan sedikit gula. Langkah selanjutnya? Tentu saja goreng pisangnya laah, huehehe..

Pisang goreng sudah siap. Biasanya pisang goreng saja ditemani secangkir teh sudah mantep. Kali ini bagaimana kalau dipadu dengan sambal terasi? Penasaran rasanya? Eh..sebentar, sebelum masuk ke rasanya bagaimana, barangkali ada yang bertanya, gimana caranya buat sambal terasinya?

yak caranya mudah sekali. Tinggal campurkan terasi dan cabe secukupnya, boleh tambahkan gula jawa sedikit. Haluskan dengan alat penghalusnya (sebut saja cobek atau munthu+leyeh, wkwkwk). Jadi sekarang sudah siap keduanya, pisang goreng dan sambal terasi.

Lalu rasanya gimana brur? Rasanya dijamin enak (menurut saya). Pisang goreng itu kan manis ya. Kalau jenis pisang kepok ini, saat digoreng tidak hanya rasa manis saja yang muncul, tapi juga ada sedikit gurihnya. Terutama untuk pisang kepok yang belum terlalu matang. Balutan tepungnya akan menambah kenikmatan si pisang goreng ini. Apalagi jika dimakan di kala masih panas habis diambil dari penggorengan, wuiih dijamin lidah Anda akan kepanasan, huehehe... Jadi makanlah saat kondisi panasnya sudah agak turun, eemm... nyummi banget deh di mulut.

Itu tadi baru rasa pisang gorengnya. Trus gimana rasa sambal terasinya? Begini, terasi itu kan baunya khas ya. Termasuk salah satu yang mengundang selera makan, apalagi sama nasi putih panas. Wuiih... sadapnya booo... bikin ketagihan ga mau berhenti. Kok bisa? Iya laah... rasanya dimulut itu seolah-olah gini, sang cabe menari-nari riang bersama sang terasi, mereka menyanyikan lagu berjudul "gurih, asin dan pedas". Tak lama menyusullah sang nasi melengkapi mereka menari dan bernyanyi. Hahahaa... intinya adalah enaaaak bin mantap jaya...

So? bagaimana rasanya Pisang goreng dicelupin ke sambal terasi? Rasanya ya gitu deh, dicoba sendiri saja yaa... :P

#Karena setiap orang memiliki persepsi masing-masing. Enak menurut saya belum tentu enak menurut orang lain. Tidak enak menurut saya bisa jadi enak menurut orang lain. Tidak perlu diperdebatkan memang, karena setiap orang memiliki "map" yang berbeda-beda. Kuncinya adalah bagaimana merespek satu dengan yang lain.

(+) Ji... tumben lu nulis artikel agak gaul plus rada aneh
(-) Huehehe.. pertama, gaul dan rada aneh itu kan menurut ente Jii... Kedua, apapun tulisannya, munculnya kan di blog ane sendiri nih, itung2 biar istiqomah nulisnya
(+) Hahaha... baiklah Ji.. suka-suka lo deh..
(-) Siip... ji... nuhun yak