Tuesday, January 29, 2013

Aku Belajar Darimu

Sebuah kebahagiaan sendiri saat bisa berbagi dengan adek-adek, rekan-rekan, partner seperjuangan dalam gerakan Inspirator Muda Purworejo. Mereka adalah para mahasiswa dari Purworejo yang siap mengabdikan dirinya menjadi inspirator bagi daerahnya. Menjadi sahabat belajar bagi adek-adek SD di daerah terpencil di Purworejo. Ada sebuah semangat tersendiri saat bisa berbagi dengan mereka semua. Mereka yang nantinya akan berbagi ilmu, pengalaman, berbagi bahagia, menggali potensi adek-adek generasi penerus bangsa.

Salah satu hal yang kami bahas dalam pertemuan tadi adalah mengenai bagaimana kita bisa belajar dari seorang anak kecil mengenai proses yang disebut dengan "BELAJAR". Tak seperti banyak orang mendefinisikan dengan begitu sederhana, bahwa belajar adalah saat kita membaca buku, menghafalkan rumus, mendengarkan ceramah orang-orang terhormat entah itu guru, dosen, pejabat, ustadz, pendeta, dst. Belajar di sini memiliki cakupan yang lebih luas, bisa dari siapapun, kapanpun, dimanapun, dari peristiwa apapun.

Learning Process
Nah, untuk kita bisa meluaskan definisi BELAJAR ini. Kita bisa memodel anak kecil saat mereka belajar sesuatu.

Pertama, selalu menerapkan yang disebut berpikiran terbuka. Mau membuka diri untuk masuknya hal-hal baru dalam diri kita. Kalau diibaratkan itu seperti parasut kali ya. Seandainya parasut pas dipakai itu tidak mengembang (baca terbuka), maka tentu tak selamatlah orang yang memakainya. Istilah kerennya open minded gitu lah. Beberapa orang menambahkan bahwa salah satu ciri orang yang open minded adalah punya rasa ingin tahu (curiosity) yang besar terhadap sesuatu.


Kedua, mengKosong kan diri kita. Pengertian meng-Kosong kan ini tentu bukan berarti lantas kita tak punya ilmu sama sekali. Saat kita sudah mem-Buka diri untuk belajar sesuatu, maka letakkan sejenak pengetahuan atau pengalaman apapun yang pernah kita dapatkan sebelumnya. Mengapa harus begitu? Iya, karena dengan begitu, tentu lebih mudah kita menyerap ilmu itu seluruhnya, tanpa harus terdistorsi dengan apa yang kita miliki sebelumnya. Pada sisi lain, menjadikan diri kita lebih jernih melihatnya, karena menggunakan sudut pandang yang netral.


Ketiga, memposisikan diri kita sebagai seorang murid yang tentu harus hormat kepada guru, merendahkan diri di hadapan guru. Bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan ilmu atau kebijaksanaan dari seseorang saat  kita merasa lebih tinggi dari beliau? Kalau dikaitkan dengan apa yang sering orang bilang dengan kata-kata "ikhlas" dan "pasrah". Maka sejatinya saat kita bisa mengakses dengan benar kedua perasaan tersebut, saat itulah sebenarnya kita sadar betul siapa kita. Bener-beneer dah, merendahkan diri kita. Melepaskan diri dari rasa "sok tahu", "sok memprediksi", "sok berprasangka", padahal kita hanyalah seorang hambaNya. Kita adalah sesosok wayang yang harus "manut" sama dalangnya. 


Semoga kita semua bisa menjadi insan-insan yang terus bisa berproses untuk terus belajar. Belajar dari siapapun, apapun, dimanapun, kapanpun. Bahwa kita hidup, diciptakan, untuk beribadah kepadaNya. Salah satu yang utama adalah dengan memberikan kemanfaatan sebanyak mungkin kepada sesama. Memberikan kemanfaatan = berbagi kebaikan, berbagi kebaikan = mencerahkan, untuk mencerahkan memerlukan cahaya, dan cahaya itu adalah ilmu. Ilmu yang bisa didefinisikan dengan pengetahuan, pengalaman, hikmah, kebijaksanaan yang akan terus kita dapatkan saat kita mau untuk terus BELAJAR.

Saturday, January 26, 2013

Sesuatu itu Bernama Cinta


Kalimat "aku sayang kamu", "aku cinta kamu", seolah sudah seperti ucapan tanpa makna. Hampir sama juga dengan saat orang menyampaikan ucapan salam, seolah hanya menjadi ritual yang tak berbobot karena tanpa diiikuti pemahaman yang baik tentang makna di baliknya. 

Kembali ke pemahaman dasar, bahwa memiliki cinta adalah fitrahnya manusia. Manusia memang sudah dikaruniai Tuhan kepekaan rasa, salah satunya adalah saat kita memiliki perasaan yang lebih kepada seseorang atau sesuatu yang sering didefinisikan sebagai cinta.

Terlalu sempit tentu saja saat kita memahami cinta hanya dari sudut pandang mengenai hubungan khusus antara seorang pria dan wanita. Lebih bijaksana saat yang disebut dengan nama "cinta" ini diletakkan dalam konteks yang lebih luas lagi. Bahwa cinta atau kasih juga adalah bagian dari asmaNya yang juga diturunkan kepada manusia. Tidak mungkin Tuhan menurunkannya hanya dalam konteks hubungan antara pria dan wanita saja. 

Ya, cinta seharusnya memiliki makna yang sungguh memberdayakan saat sesuatu yang mendasari munculnya rasa tersebut adalah lebih dari sekedar nafsu atau keinginan untuk memiliki. Lalu apa kalau bukan nafsu atau keinginan untuk saling memiliki? Bolehlah kita mendasarkan diri pada keinginan untuk berbagi atau Memberi. Seperti DIA yang tak pernah perhitungan dalam memberikan karunia kepada hamba-hambaNya. Oleh karenanya DIA adalah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Memiliki Cinta....

Demikian juga seharusnya saat kita menerapkan yang disebut dengan cinta. Mencintai siapapun, mencintai apapun, seharusnya juga melandaskan pada keinginan "memberi" ini. Memberi sebuah kedamaian, memberi sebuah ketenangan, memberi penjagaan, memberi senyuman, dalam rangka menyalurkan kasih sayangNya, dalam rangka menyadarkan mengenai keberadaan Sang Maha Cinta, yang selalu menyertai dalam setiap hal yang dilakukan hambaNya